Diposting oleh Humas | Jumat, 31 Januari 2014 19:24 WITA - Dilihat 750 kali
Sejarah IAIN Antasari
1 0

Berdirinya IAIN Antasari diawali oleh adanya kesadaran tentang penyempurnaan pendidikan Islam yang sudah merupakan kebutuhan masyarakat di Kalimantan Selatan dan harus diatasi bersama-sama.

Beberapa hal yang mendorong hal tersebut antara lain:
Sejarah IAIN AntasariSebelum masa kemerdekaan kesempatan untuk melanjutkan studi bagi lulusan madrasah tingkat ‘aliyah atau sederajat ketingkat yabg lebih tinggi sangat terbatas sekali. Hanya mereka yang mampu dalam pembiayaan saja yang memiliki kesempatan, apalagi kalau harus melanjutkan pendidikan agama ke luar negeri seperti Mesir atau Saudi Arabia. Dengan didirikannya perguruan tinggi agama Islam di daerah ini, maka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi akan terbuka lebar bagi mereka yang berminat. Adanya perubahan masyarakat yang begitu cepat serta kemajuan ilmu pengetahuan yang menyebabkan munculnya masalah-masalah baru dalam kehiidupan kegamaan dan kemasyarakatan. Kelahiran sebuah perguruan tinggi agama yang dapat menghasilkan tenaga-tenaga terdidik yang diharapkan mampu memecahkan masalah tersebut tidak dapat ditunda lagi.

Langkah konkritnya adalah dengan diadakannya Kongres Umat Islam Kalimantan pada tanggal 15-19 Juli 1947 yang kemudian dilanjutkan dengan Kongres Serikat Muslimin Indonesia pada tanggal 17-20 Januari 1948 di Banjarmasin. Kemudian pada tanggal 28 Februari 1948 di Barabai terjadi kesepakatan antara ulama dan tokoh pendidik untuk membentuk sebuah badan yang dinamakan “Badan Persiapan Sekolah Tinggi Islam Kalimantan ” berkedudukan di Barabai dan diketuai oleh H. Abdurrahman Ismail, MA.

Ulama yang hadir pada pertemuan tersebut antara lain: K.H. Hanafie Gobit dan H.M. Nor Marwan dari Banjarmasin, H. Usman dan M. Arsyad dari Kandangan (Hulu Sungai Selatan), H. Mukhtar, H.M. Asa’d, H. Abdurrahman Ismail, H. Mansyur dan H. Abdul Hamid dari Barabai (Hulu Sungai Tengah) serta H. Juhri Sulaiman, H. A. Hasan dan K.H. Idham Khalid dari Amuntai (Hulu Sungai Utara).

Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata hasil kongkrit pertemuan di Barabai tahun 1948 tersebut belum bisa diwujudkan. Oleh karena itu atas prakarsa pemuka masyarakat Amuntai yang dipelopori H. Ahmad Hasan telah diputuskan untuk membentuk wadah kerjasama baru dengan nama “Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Rasyidiyah” (PPTAIR). Ternyata usaha inipun menemui jalan buntu. Usaha berikutnya PPTAIR baru yang dipelopori H.A.Wahab Sya’rani pada tahun 1956 di Amuntai mengalami nasib yang sama, bahkan terpaksa dibubarkan. Kandasnya usaha terakhir ini sungguh mengkhawatirkan masyarakat tentang masa depan generasi muda lulusan madrasah setingkat ‘aliyah yang tidak menentu. Kekhawatiran tersebut syukurlah akhirnya tidak berkepanjangan dengan dibentuknya kerjasama antara tokoh tokoh masyarakat dengan pemerintah daerah/gubernur Kalimantan Selatan yang dikala itu dijabat oleh H. Maksid setelah masyarakat mengirim sebuah delegasi, khusus membicarakan hal tersebut kepada Gubernur. Wujud kerjasama itu adalah turun tangannya gubernur dalam membidani lahirnya sebuah fakultas agama ditiap kabupaten via Bupati yang bersangkutan. Akhirnya pada bulan September 1961 apa yang dicita citakan tersebut telah menjadi kenyataan, dengan didirikannya 3 buah Fakultas Agama di tiga kabupaten yakni di Amuntai Fakultas Ushuluddin, di Barabai Fakultas Tarbiyah dan di Kandangan Fakultas Adab,(sebelumnya bernama Akademi Agama Islam dan Bahasa Arab). Agar ketiga Fakultas tersebut dapat dibina dengan baik dibentuklah sebuah Badan Koordinator di Banjarmasin yang diketuai Gubernur sendiri (H. Maksid) dan H. Abdurrasyid Nasar selaku Sekretaris. Kebijakan gubernur tersebut nampaknya cukup melegakan masyarakat sehingga proses selanjutnya untuk mengintensifkan pembinaan perguruan tinggi agama tersebut dapat berjalan lancar. Cita cita mendirikan fakultas agama di ibukota propinsi Kalimantan Selatan ini tidak pernah padam. Pada tanggal 21 September 1958 diresmikan berdirinya Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dengan 4 fakultas, salah satunya adalah Fakultas Agama Islam.

Fakultas Agama Islam ini umurnya tidak begitu lama, karena kemudian berubah menjadi Fakultas Islamologi dengan ketuanya H. Abdurrahman Ismail, MA (alm) dan Sekretaris H. Mastur Jahri, MA (alm). Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1960 dibentuk Panitia Persiapan Fakultas Syari’ah Banjarmasin. Salah satu pertimbangannya adalah karena masyarakat Kalimantan Selatan mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap Penegerian Fakultas Islamologi menjadi Fakultas Syari’ah Banjarmasin.

Keluarnya Peraturan Presiden RI No.11 tahun 1960 tentang pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Peraturan Presiden No.27 tahun 1963 tentang perubahan Peraturan Presiden No.11 tahun 1960, maka peluang untuk menegerikan Fakulas Islamologi menjadi Fakultas Syari’ah terbuka lebar. Selain Peraturan Presiden itu, TAP MPRS tanggal 3 Desember 1960 No.II/MPRS/1960 yang disusul dengan Resolusi MPRS No.1/MPRS/1963, memberikan dasar pijak yang lebih kuat bagi hasrat untuk mengem-bangkan pendidikan Agama dan perluasan Fakultas Agama.

Sebagai upaya untuk penegerian Fakultas Islamologi Unlam menjadi Fakultas Syari’ah itu, maka panitia Persiapan Fakultas Syari’ah mengutus H.M.Daud Yahya (alm) dan Abdurrivai, BA (sekarang Drs. H. Abdurrivai) untuk menghadap Menteri Agama K.H.M.Wahib Wahab (alm) di Jakarta guna memantapkan usaha yang sedang ditempuh.

Usaha delegasi Panitia Persiapan Fakultas Syari’ah ini tidak sia sia, karena dengan Keputusan Menteri Agama RI No.28 tahun 1960 tanggal 24 Nopember 1960 yang ditandatangani sendiri oleh K.H. Wahib Wahab, diresmikanlah penegerian Fakultas Islamologi Banjarmasin menjadi Fakultas Syari’ah sebagai cabang dari Al Jami’ah Al Islamiah Al Hukumiah Yogyakarta. Penegerian Fakultas Syari’ah ini terhitung mulai tanggal 15 Januari 1961 M bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1380 H. Dan sebagai Dekan ditetapkan H.Abdurrahman Ismail, MA (alm). Fakultas Syari’ah ini sejak dinegerikan sampai dengan tahun 1965 masih menempati kantor di Jalan Lambung Mangkurat bersama 3 Fakultas lainnya dari Universitas Lambung Mangkurat. Perkuliahan pada waktu itu bersama fakultas lainnya menggunakan gedung bekas Kodam X/LM di Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Pada tahun 1965 kantor Fakultas Syari’ah dan sebagian perkuliahan dipindahkan ke gedung Sekolah Menengah Islam Atas (SMIA) di jalan Sungai mesa Darat. SMIA dimaksud kemudian menjadi SP IAIN dan terakhir menjadi Madrasah Aliyah Negeri 1 Banjarmasin.

Fakultas Syari’ah ini pulalah yang merupakan salah satu modal berdirinya IAIN Antasari. Pada saat fakultas Syari’ah ini menjadi salah satu fakultas dalam lingkungan IAIN Antasari pada bulan Nopember 1964 telah meluluskan Srjana muda (BA) sebanyak 25 orang.

Walaupun Fakultas Islamologi Universitas Lambung Mangkurat telah dinegerikan menjadi Fakultas Syari’ah cabang al jami’ah Yogyakarta, keinginan masyarakat Kalimantan Selatan untuk memiliki sebuah perguruan tinggi agama Islam di daerah ini dirasakan belum terpenuhi seluruhnya. Yang ada baru merupakan satu badan koordinator sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Kemudian berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah gabungan ketiga Fakultas yang ada di Kabupaten, maka hubungan koordinasi ditingkatkan dan sepakat untuk mendirikan Universitas Islam Antasari yang disingkat dengan UNISAN. Unisan ini langsung dipimpin oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Maksid sebagai Presidennya. Dalam melaksanakan tugasnya beliau Presidium UNISAN ini dibantu oleh H.Mukhyar Usman, Abd.Gafar Hanafiah dan H.Abd.Rasyid Nasar, masing masing membidangi pendidikan, keuangan dan kemahasiswaan, serta H. M. Irsyad Jahri sebagai Sekretaris.

Pengumuman resmi berdirinya UNISAN ini dibacakan oleh H. Maksid sendiri pada tanggal 17 Mei 1962 di lapangan Dwi Warna Barabai sebagai bagian dari kegiatan peringatan Hari Proklamasi ALRI DivisiIV pertahanan kalimantan yang ke 13. Upacara tersebut dihadiri oleh Panglima ALRI Laksamana R.E. Martadinata. Sesudah peresmian tersebut, pada tahun itu juga Fakultas Publisistik di Banjarmasin yang dipimpin oleh Zafry Zamzam bergabung pada UNISAN. Dengan demikian UNISAN memiliki 4 Fakultas, yaitu:

Fakultas Ushuluddin di Amuntai Kabupaten HSU Fakultas Tarbiyah di Baratai Kabupaten HST Fakultas Adab di Kandangan Kabupaten HSS Fakultas Publisistik di Kotamadya Banjarmasin

Adanya Peraturan Presiden nomor 11 tahun 1960. tentang IAIN Al Jami’ah al Islamiyah al Hukumiyah), dan penetapan Menteri Agama Nomor 35 tahun 1960 tentang pembukaan resmi Al Jami’ah Al Islamiyah Al Hukumiyah serta penetapan Menteri Agama Nomor 43 tahun 1960 tentang penyelenggaraan IAIN disatu sisi, kemudian dipihak lain berdirinya UNISAN tahun 1961 serta adanya Fakultas Syari’ah cabang Al Jami’ah Yogyakarta, menjadi modal utama para tokoh masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendirikan satu IAIN yang berdiri sendiri di Kalimantan Selatan.

Setelah melalui proses perjuangan yang panjang dan penegerian fakultas Tarbiyah Barabai, Fakultas Ushuluddin Amuntai serta Fakultas Syari’ah kandangan ditambah dengan fakultas Syari’ah cabang Al Jami’ah Yogyakarta, maka pada tanggal 20 Nopember 1964,berdasar Kepmenag nomor 89 tahun 1964, diresmikanlah pembukaan IAIN Al Jami’ah Antasari berkedudukan di Banjarmasin dengan rektor pertama Zafry Zamzam.

Pada waktu IAIN Antasari diresmikan pada tahun 1964, fakultas-fakultas yang sudah ada di Banjarmasin dan daerah-daerah kabupaten yang berasal dari UNISAN dijadikan Fakultas-Fakultas Negeri di bawah IAIN Antasari. Ada empat fakultas yang resmi dikelola, yaitu: Fakultas Syariah di Banjarmasin Fakultas Syariah di Kandangan Fakultas Tarbiyah di Barabai Fakultas Ushuluddin di Amuntai

Karena hanya mempunyai empat fakultas yang tersebar di daerah dan hanya satu yang berada di Banjarmasin sebagai pusat Institut, sehingga Rektor merasa perlu agar sebagai Pusat Institut tidak hanya ada satu fakultas, melainkan harus memiliki fakultas yang lengkap sebagaimana IAIN lainnya.. Disamping itu di daerah yang belum ada fakultasnya juga dirintis usaha untuk mendirikan Fakultas cabang. Hal ini didorong oleh keinginan untuk memudahkan calon mahasiswa yang tidak mampu ke luar daerah, agar bisa melanjutkan studinya di daerahnya sendiri, disamping ingin sebanyaak-banyaknya mendidik generasi Islam yang berpendidikan perguruan tinggi.

Sebagai realisasi dari keinginan tersebut, berturut-turut berdirilah beberapa fakultas di daerah, yaitu: Fakultas Tarbiyah Banjarmasin, diresmikan pada tahun 1965 Fakultas Tarbiyah Cabang Martapura, diresmikan pada tahun 1969 Fakultas Tarbiyah Cabang Rantau diresmikan pada tahun 1970 Fakultas Tarbiyah Cabang Kandangan, diresmikan pada tahun 1965 Fakultas Dakwah Banjarmasin, didirikan pada tahun 1970

Dengan demikian, sejak berdiri pada tahun 1964 sampai tahun 1970, IAIN Antasari telah berkembang menjadi sembilan fakultas. Pada tahun 1973 diadakan oleh pimpinan IAIN Antasari diadakan evaluasi terhadap jalannya fakultas-fakultas di daerah dan akhirnya diputuskan untuk mengintegrasikan Fakultas Tarbiyah Cabang Martapura, Rantau dan Kandangan ke Banjarmasin dan Barabai ke Banjarmasin dan Barabai. Selanjutnya mulai tahun 1978, Fakultas Syariah di Kandangan diintegrasikan ke Fakultas Syariah di Banjarmasin, Fakultas Tarbiyah di Barabai diintegrasikan ke Fakultas Tarbiyah Barabai dan Fakultas Ushuluddin di Amuntai dipindahkan ke Banjarmasin. Proses pengintegrasian dan pemindahan ini berakhir pada tahun 1980. Sehingga mulai tahun 1980, IAIN Antasari hanya mempunyai empat fakultas yang semuanya ada di Banjarmasin, yaitu:

Fakultas Syariah Fakultas Tarbiyah Fakultas Dakwah Fakultas UshuluddinPada tahun 1988 fakultas yang ada di IAIN Antasari bertambah menjadi enam, yaitu dengan di integrasikasikannya Fakultas Tarbiyah Palangka Raya dan Fakultas Tarbiyah Samarinda sebagai Cabang dari IAIN Antasari.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 Fakultas Tarbiyah Palangka Raya berubah menjadi STAIN Palangka Raya dan Fakultas Tarbiyah Samarinda menjadi STAIN Samarinda , sehingga sampai saat ini IAIN Antasari kembali menjadi empat fakultas, yaitu: Fakults Syariah Fakultas Tarbiyah Fakultas Dakwah Fakultas Ushuluddin.