Renungan Harian

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Arra'du [13] :28)

 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
Surel Cetak PDF

Lagi, Dua Professor Dikukuhkan

Inilah salah satu bentuk komitmen IAIN Antasari sebagai perguruan tinggi pencetak sarjana agama dengan meningkatkan kualitas para dosen hingga mencapai gelar  tertinggi. IAIN Antasari terus bergerak maju dengan bertambahnya 2 orang professor baru bidang ilmu hukum islam dan ilmu tafsir. 2 orang professor yang dikukuhkan  adalah Prof.Dr. Ahmadi Hasan, MH dan Prof.Dr.H. Mahyuddin Barni, M.Ag. Pengukuhan dilakukan pada rapat senat terbuka di auditorium Antasari Rabu, 28 Januari 2009.

 

Dikatakan rektor IAIN Antasari Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, MA, dengan dikukuhkannya 2 orang professor baru yang sebulan sebelumnya tepatnya tanggal 18 Desember juga telah dikukuhkan 2 orang professor bidang ilmu tafsir dan pendidikan bahasa Indonesia, menambah jajaran guru besar di IAIN Antasari Banjarmasin sebagai IAIN tertua di Kalimantan. Sebab gelar professor merupakan gelar tertinggi di bidang akademik.

 

"Kami berharap para guru besar ini bisa menyalurkan keilmuannya kepada masyarakat dan berharap ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat bermanfaat untuk pengembangan banua kedepan," harapnya.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Pendayagunaan Mediasi Syari'ah dalam Perspektif Penyelesaian Sengketa, Prof. Dr. Ahmadi Hasan, M.H memaparkan mediasi merupakan salah satu model dan bentuk penyelesaian sengketa secara damai, baik dengan cara mediasi tradisional, mediasi modern dan mediasi syari'ah.

"Penyelesaian sengketa syari'ah memberi peluang kepada para pihak untuk menggunakan penyelesaian sengketa melalui mediasi syari’ah," paparnya.

Ahmadi juga merekomendasikan kepada para praktisi hukum Islam termasuk hakim agama, ahli hukum Islam, akademisi, para alumni fakultas syari'ah berpeluang untuk memberikan advokasi terhadapa masyarakat muslim dalam persoalan ekonomi syari'ah.

Sedangkan Prof. Dr. H. Mahyuddin Barni, M.Ag dalam orasinya berjudul Pencegahan Tindak Kekerasan dalam Perspektif Islam, lebih menekankan pencegahan tindak kekerasan dilakukan dengan mengendalikan frustasi  lewat peningkatan iman, optimisme serta memberikan bimbingan dengan zikir dan kegiatan bermanfaat.