Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
World Class University
Filed Under: Selasa, 13 Mei 2014 pukul 00:13 WITA — Dilihat 520 kali
Bagikan Tulisan Ini
mujiburrahman_jendela

“KITA harus menjadi universitas kelas dunia (World Class University),” katanya bersemangat.

Belakangan, saya cukup sering mendengar ungkapan serupa, dari dosen, guru besar, pejabat pusat, hingga pimpinan perguruan tinggi di berbagai tempat.

“Untuk menjadi besar, kita harus bermimpi besar,” katanya lagi, seperti menirukan ungkapan pembicara publik yang kini disebut motivator.

Sebagai orang yang kebetulan pernah studi di universitas kelas dunia, saya menarik napas dalam-dalam. Saya sungguh sadar, betapa jauhnya jarak antara budaya akademik dan fasilitas infrastruktur yang ada di universitas kelas dunia yang saya kenal, dengan keadaan mayoritas perguruan tinggi kita saat ini. Bermimpi, berangan-angan dan bercita-cita itu baik, tetapi orang juga tak boleh lupa akan kenyataan.

Coba Anda telusuri QS World University Rankings 2013 di internet, lalu cari posisi universitas-universitas yang selama ini kita banggakan. Untuk 400 universitas dunia, hanya Universitas Indonesia (UI) yang masuk, dan itupun berada di urutan 309!

Bandingkan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang berada di urutan 269, apalagi National University of Singapore (NUS) yang berada di urutan 24.

Untuk tingkat Asia 2013, dari 400 universitas, posisi beberapa universitas kita agak lumayan. Universitas Indonesia (UI) berada di urutan 64, Institut Teknologi Bandung (ITB) di 129, Universitas Gadjah Mada (UGM) di 133, dan Universitas Airlangga (UNAIR) di 145. Yang nomor wahid di Asia bukan kita, tetapi The Hongkong University of Science and Technology, dan disusul National University of Singapore (NUS).

Bagaimana dengan ribuan perguruan tinggi lain, yang bertebaran di negeri ini? Jelas, semuanya belum termasuk kelas dunia. Bahkan, dengan standar nasional saja, masih banyak yang terakreditasi C atau belum terakreditasi.

Lantas, mengapa universitas-universitas di negara-negara lain dapat mencapai posisi 100 universitas top dunia? Apa saja kriteria penilaian yang digunakan QS University Rankings?

Rupanya, aspek-aspek yang dinilai memang berat. Misalnya, berapa banyak publikasi internasional dari tiap fakultas? Berapa banyak kutipan para ilmuwan terhadap karya-karya ilmiah dosen dan mahasiswa dari fakultas yang bersangkutan?

Seberapa mudah alumninya mendapatkan pekerjaan? Berapa banyak mahasiswa dan dosen tamu internasional di fakultas itu? Seberapa tinggi reputasi akademiknya?

Sekarang, mari tengok keadaan kita, cukup satu bidang saja, yaitu karya ilmiah. Berapa banyak dosen kita, yang menulis hasilrisetnya di jurnal internasional? Berapa banyak karya kita dikutip orang di tingkat nasional dan internasional?

Saya kira, banyak dosen yang sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara positif, karena budaya akademik kita umumnya masih sangat pragmatis, politis bahkan selebritis.

Masalah utama yang kita hadapi memang kualitas sumber daya manusia (SDM). Kecenderungan kita sekarang tampaknya masih pada jumlah (kuantitas), bukan mutu (kualitas), seperti tercermin dalam kebijakan pemerintah mengenai peningkatan angka partisipasi kotor (APK).

Akibatnya, mahasiswa membeludak, tapi dengan kualitas yang campur baur. Ada yang cerdas, banyak pula yang pas-pasan.

Dalam kondisi yang demikian, jika kita masih menginginkan kualitas, maka pilihannya minimal ada dua. Pertama, kita menetapkan standar kelulusan yang ketat. Risikonya, mungkin akan banyak mahasiswa yang terpaksa dikeluarkan alias drop out.

Kedua, kita menetapkan standar ganda, satu untuk kelompok unggulan, dan satu untuk ukuran rata-rata. Cara ini  jelas tidak ideal, tetapi tampaknya cukup realistis.

Begitu pula, jika kita ingin cepat memiliki universitas kelas dunia, dosen-dosen berkelas internasional yang telah ada, harus  disatukan dalam satu institusi sesuai bidang keilmuwannya.

Saat ini, mereka terpencar di banyak tempat sehingga pengaruhnya laksana gerimis belaka. Hal ini diperparah lagi oleh kegemaran kita membikin perguruan tinggi baru, padahal yang ada saja sudah ribuan.

Selain itu, anak-anak muda yang cerdas harus disiapkan sejak dini, agar mampu bersaing di tingkat internasional. Langkah pemerintah tahun ini memberikan Presidential Scholarship bagi 100 orang yang kuliah di salah satu 50 universitas top dunia patut kita dukung.

Memang langkah ini seharusnya sudah kita lakukan paling kurang 50 tahun silam. Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Selebihnya, silahkan bermimpi, dan mari kita mulai dari diri sendiri untuk mewujudkannya.

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top