Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
The IAIN Antasari Principle of Succsess; “WAJA”
Filed Under: Opini Antasari Senin, 24 Februari 2014 pukul 02:07 WITA — Dilihat 1,103 kali
Bagikan Tulisan Ini
Sukarni

Oleh: Dr. H. Sukarni, M.Ag.
(Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan)

(W = Wara; A = Amanah; J = Juhd; A = Ahsan)

Waja adalah kata inti yang terdapat dalam semboyan perjuangan Pangeran Antasari (1809 – 1862) untuk memberi semangat perjuangan bagi rakyat Banjar agar terbebas dari belenggu penjajahan. Semboyan itu berbunyi “Waja Sampai Kaputing” Waja Sampai ka Puting ( HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia” \o “w:Bahasa Indonesia” bahasa Indonesia : Terbuat dari baja mulai pangkal sampai ke ujungnya), maksudnya perjuangan yang tak pernah berhenti hingga tetes darah penghabisan. Nama pejuang banua ini kemudian dipilih oleh tetuha kita untuk nama perguruan tinggi agama Islam yang diresmikan tanggal 20 November 1964, IAIN Antasari. Insya Allah bila sudah waktunya tiba, perguruan tinggi kita ini  akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri Pangeran Antasari. Amin.

Dipilihnya kata tersebut (waja, Indonesia=besi berkualitas tinggi) sebagai kata inti bukan suatu kebetulan. Kata tersebut memiliki makna filosofi yang amat tinggi dan dalam; ia dapat menghadirkan semangat heruik dan istiqamah dalam perjuangan. Hasilnya terbukti, meski Belanda mampu menghancurkan Kesultanan Banjar pada awal abad ke-20, tetapi semangatnya mampu mendorong para pahlawan untuk menghadirkan kemerdekaan.

Peribahasa ini dijadikan oleh Pangeran  HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Antasari” \o “w:Antasari” Antasari dan rakyat Banjar yang umumnya mendiami wilayah  HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan” \o “w:Kalimantan Selatan” Kalimantan Selatan dan Tengah sebagai motto perjuangannya melawan penjajah yang bermakna bekerja keras sampai selesai, perjuangan hingga mencapai tujuan, kemerdekaan. Juga kalimat tersebut menjadi motto provinsi  HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan” \o “w:Kalimantan Selatan” Kalimantan Selatan (“Waja Sampai Ka Puting”),  HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Balikpapan” \o “w:Kota Balikpapan” Kota Balikpapan dan  HYPERLINK “http://id.wikipedia.org/wiki/Komando_Daerah_Militer_VI/Mulawarman” \o “w:Komando Daerah Militer VI/Mulawarman” Kodam VI Mulawarman (“Gawi Manuntung, Waja Sampai Ka Puting”).

Di dalam Al-Quran, Allah menurunkan salah satu surah yang bernama al-Hadid  yang bermakna besi. Surah tersebut berada pada urutan ke-57 dari 114 surah yang ada di dalam Al-Quran, berisi 29 ayat. Pada ayat ke 25, Allah berfirman

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Pada ayat tersebut, Allah menyebut bahwa besi memiliki kekuatan yang hebat (بَأْسٌ شَدِيدٌ) yang memiliki berbagai manfaat bagi manusia (وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ).

Dalam konteks IAIN Antasari, “waja” dapat kita intepretasikan sebagai sinonim dari kesederhanaan (wara`), integritas/keterpercayaan  (amanah), kesungguhan (juhd), dan terbaik/super (ahsan).

Wara` (Kesederhanaan) adalah kesahajaan dan kepolosan. Kesederhanaan tidak sama dengan kekumuhan dan ketertinggalan. Kesederhanaan diri menampilkan sosok apa adanya sesuai dengan konteks posisi pribadi dalam ruang dan waktu tertentu. Bagi mahasiswa berarti tampil sebagai mahasiswa, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagai pencari ilmu, mahasiswa tampil dengan bobot pribadi yang haus dengan informasi ilmiah, karena pencarian pengetahuan itulah yang menjadi moment khas setiap mahasiswa. Orang yang hidup dengan sederhana tidak akan pernah merasakan ada beban dalam langkahnya. Orang yang hidup sederhana juga tidak akan merasa sombong karena ia yakin kehidupan itu akan berjalan sesuai fitrahnya. Dengan demikian, orang yang sederhana tidak akan merasakan ada tekanan batin dalam hidupnya. Mengalir bagaikan air yang dingin dan ikhlas untuk  memberi kehidupan kepada semuanya.

Amanah  adalah salah satu sifat para Rasul pilihan Tuhan yang bermakna kemampuan menunaikan tugas untuk menebar kebajikan dengan sebaik-baiknya. Orang yang memiliki amanah, dalam beraktifitas tidak memandang apa yang akan ia dapatkan, tetapi berpikir tentang apa yang ia berikan.  Amanah bermula dari keyakinan terdalam bahwa setiap kerja kebajikan akan menghasilkan kebajikan yang lebih besar lagi. Orang yang amanah yakin bahwa jejaring kebajikan akan direkayasa Tuhan untuk memberi balasan kepada setiap penebar kebajikan, law of attraction. Sebagai pemegang amanah orang tua dan masyarakat, mahasiswa harus berkeyakinan bahwa perjuangannya menuntut ilmu adalah kerja kebajikan yang nilainya tiada tara. Dengan kesadasarannya itu, dia berkeyakinan bahwa Tuhan akan memberi reward berupa kesuksesan dalam studi.

Juhd (kesungguhan) adalah  sifat orang yang akan sukses. Kesungguhan menggambarkan semangat perjuangan dengan segala pengorbanan. Kesungguhan adalah pintu pembuka keberhasilan. Semua cita-cita dan rencana akan begitu mudah diraih melalui kesungguhan. Dalam pepatah Arab terkenal   suatu unmgkapan: Man Jadda Wajada wa Man Saaro’ ala ad-darbi Washola. Maknanya ”Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil, siapa yang berjalan pada jalannya, dia akan sampai di tujuan”. Kesungguhan berkaitan dengan motivasi, visi, dan niyat. Apa sih niyat kita pergi ke kampus, coba-coba, sekedar cari teman, singgah cari pengalaman, atau menuntut ilmu (ingat: kata menuntut berarti penuh perjuangan). Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah mengingatkan para Sahabat yang ingin ikut dalam program hijrah ke Yatsrib (Madinah):

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya segala perbuatan diserati niyat, sesungguhnya hasil dari perbuatan itu hanyalah apa yang ia niyatkan. Barang siapa yang niyat hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau perempuan yang akan dijadikannya isteri, maka hasil hijrahnya hanya dunia atau wanita.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kesungguhan menuntu ilmu itu harus benar niyatnya, yaitu untuk memenuhi kewajiban mengusir ketidaktahuan. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki kerja pengabdian untuk mengusir kebodohan bagi masyarakat kiranya dapat dilaksanakan. Masyarakat menjadi tercerahkan dengan pengetahuan yang kita sampaikan.

Ahsan (terbaik) menggambarkan pilihan yang super. Hidup adalah pilihan-pilihan. Sejak bangun tidur, kita sudah dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Memilih adalah kerja rutin dalam rentang hidup kita. Pilihan selalu didasari oleh tujuan dan terkadang dihimpit oleh keadaan. Pilihan terkadang susah dilakukan karena kualitas varian alternatif yang tidak begitu jelas atau kemampuan daya pikir analisa kita yang begitu lemah. Akan tetapi, ketika kita melangkahkan kaki keluar dari SLTA dan memasuki dunia kampus, pilihan itu semakin jelas, menuntut ilmu, memenuhi panggilan iqra` yang sejak Nabi kita dilantik menjadi Rasul sudah ditegaskan Tuhan.

Melalui uraian tersebut jelaslah bahwa “waja”, baik dalam arti besi murni yang dipergunakan manusia untuk mengembangkan teknologinya untuk kemudahan-kemudahan hidup atau dalam arti sinonim dari kesederhanaan, amanah, kesungguhan, dan mengambil yang terbaik memang memiliki kekuatan yang dahsyat sebagai wasilah kehidupan.

Selamat Berjuang.

 

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
SADZALI GERAM PARKIRAN USHULUDDIN DIPENUHI MAHASISWA SYARIAH
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:35 am

                 foto: Yunita SariBSukma- Parkir kendaraan kembali menuai protes, kali ini datang dari Fakultas …

Pemimpin vs Pemimpin Realitas Pemimpin dalam Program PKMD
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:20 am

penulis: Moh Husni Dalam pewayangan Sindhunata pernah berkata, rakyat adalah digdaya tanpa aji. Maksudnya rakyat memiliki kekuatan namun tanpa harga diri dan nilai. Karena itu pemimpin adalah …

Lukisan Kehidupan
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 8:53 am

Sumber GoogleKarya: Siti Bulqis RadinahHidup bagai roda yang berputarKadang di atas kadang di bawahDan balik ke atas balik ke bawahBegitulah retak kehidupanJatuh bangun bukan bermakna kita kalahDan …

To Top