Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Seputar Petunjuk Alquran
Filed Under: Opini Antasari Selasa, 1 April 2014 pukul 03:25 WITA — Dilihat 1,943 kali
Bagikan Tulisan Ini
Abdullah__Karim

Oleh: Abdullah Karim[1]

A.     Pendahuluan

Bagi umat Islam, Alquran diyakini sebagai kalâmullâh yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., melalui Malaikat Jibril. Fungsi utamanya adalah menjadi petunjuk dan membimbing umat manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Fungsi Alquran sebagai petunjuk, diinformasikan melalui banyak ayat di dalam Alquran. Walaupun demikian, kadang-kadang informasi-informasi tersebut dapat disalahpahami, karena terkesan berbeda dan mungkin ada yang terkesan bertentangan. Akan tetapi, Allah secara tegas menyatakan “Sekiranya Alquran itu bukan berasal dari Allah swt. tentu mereka temukan banyak perselisihan di dalamnya” (An-Nisâ:82).

Salah satu informasi mengenai petunjuk Alquran yang berbeda dapat ditemukan pada Sûrah al-Baqarah ayat dua dan ayat 185. Bagaimana memahami petunjuk Alquran dari kedua informasi yang berbeda itu? Inilah yang akan dibahas dalam uraian berikut:

B.      Pembahasan

Sûrah al-Baqarah ayat dua menginformasikan: “Kitab ini (Alquran) tidak ada keraguan padanya, petuntuk bagi orang-orang yang bertakwa”.  Ayat ini mengilustrasikan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk, hanya bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan pada Sûrah al-Baqarah ayat 185 diinformasikan: “Bulan Ramadhân yang (permulaan) Alquran diturunkan padanya, petunjuk bagi seluruh umat manusia; dan penjelasan mengenai petunjuk itu; serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)”. Ayat ini mengilustrasikan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Perbedaan informasi yang diberikan oleh kedua ayat ini mungkin membingungkan bagi masyarakat muslim yang awam. Untuk itu diberikan penjelasan sebagai berikut:

Pada Sûrah an-Nisa ayat 82 ditegaskan bahwa jika Alquran itu berasal bukan dari Allah, tentu akan didapatkan banyak pertentangan di dalamnya. Mengingat bahwa Alquran itu berasal dari Allah, tentunya tidak akan ada pertentangan di dalamnya. Mengenai Sûrah al-Baqarah ayat dua dan 185 yang dibahas ini, memang tidak bertentangan, karena pada ayat dua diinformasikan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk atau memberikan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan ayat 185 menginformasikan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Perbedaan informasi ini semakin tajam, jika orang yang belum memahami Alquran mengajukan pertanyaan berikut: Jika Alquran itu menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia, mengapa masih ada orang-orang yang kâfir dan munâfiq? Di sinilah perlu adanya penjelasan memadai mengenai petunjuk Alquran dalam kedua informasi tersebut.

Pertama, Sûrah al-Baqarah ayat 185 menjelaskan permulaan turunnya Alquran yang terjadi pada Bulan Ramadhân. Karena itu, perlu ditegaskan fungsi utamanya yaitu menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di sini, informasi utamanya adalah petunjuk Alquran itu sendiri yang sebenarnya bersifat netral, siapa pun dapat mengambil manfaat dari petunjuk Alquran, apakah dia mau beriman atau tidak. Ahmad Mushthafâ al-Marâgiy membuat analogi petunjuk Alquran itu dengan sinar matahari yang bersifat netral, (Al-Marâgiy; 1985, h. 40) siapa pun dapat memanfaatkannya. Bahkan binatang dan tumbuhan pun menjadi sehat dan segar dengan adanya sinar matahari. Akan tetapi, kita tidak dapat memungkiri adanya orang yang menjadi susah karena bersinarnya matahari. Orang yang sedang sakit mata, merasakan perih matanya ketika dia bangun tidur dan melihat cahaya remang-remang, apalagi jika dia menatap cerahnya sinar matahari. Dalam hal ini, kita tidak dapat menyalahkan sinar matahari, tetapi kondisi si penerima sinar matahari itulah yang tidak normal, sehingga dia tidak dapat menerimanya.

Kedua, Sûrah al-Baqarah ayat dua sampai dengan ayat 20 menjelaskan sikap manusia dalam menerima petunjuk Alquran. Dalam hal ini manusia terbagi kepada tiga kelompok besar, yaitu: al-Muttaqûn, al-Kâfirûn, dan al-Munâfiqûn.

Orang-orang yang bertakwa (al-Muttaqûn) adalah kelompok manusia yang aktif menerima petunjuk Alquran. Sifat-sifat mereka dijelaskan pada ayat tiga sampai dengan lima Sûrah al-Baqarah ini.

Orang-orang kafir (al-Kâfirûn) adalah mereka yang tidak mau menerima petunjuk Alquran, apa pun yang terjadi mereka tetap tidak beriman. Hal ini dijelaskan pada ayat enam dan tujuh Sûrah al-Baqarah ini. Orang-orang kafir ini secara jantan menyatakan tidak mau beriman, sehingga jelas posisi mereka bagi orang-orang yang beriman.

Sedangkan orang-orang munafik (al-Munâfiqûn) adalah mereka yang punya penyakit hati berupa tidak percaya diri. Mereka tidak mau beriman (sama dengan orang-orang kafir), tetapi mereka mengaku beriman di hadapan orang-orang beriman. Hal ini mereka lakukan dalam upaya menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, apa yang mereka lakukan menjadi “senjata makan tuan”, di mana tipuan mereka itu berbalik menjadi musibah bagi mereka sendiri. Hal ini dijelaskan pada ayat delapan sampai dengan 20 Sûrah al-Baqarah ini.

Demikian uraian singkat seputar petunjuk Alquran yang dapat disampaikan saat ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Âmîn.

C.     Penutup

Uraian ini diakhiri dengan kesimpulan bahwa dalam Alquran sama sekali tidak ditemukan pertentangan. Walaupun demikian, memang masih ditemukan informasi-informasi Alquran yang sekilas terlihat berbeda. Untuk mengurai benang kusut seperti itu, dibutuhkan perhatian para ulama yang punya kompetensi untuk membimbing masyarakat awam, agar mereka tidak tersesat jalan karena melakukan pemahaman sendiri terhadap ayat-ayat Alquran.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengurai benang kusut pemahaman Alquran itu, antara lain dengan memperhatikan konteks pembicaraan Alquran dengan informasi yang diberikannya itu.


[1]Guru Besar Ilmu Tafsir dan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
Sedasawarsa Wacana IAIN Menjadi UIN: (Selangkah yang sangat Panjang)
Diposting pada lembaga pers tanggal 6 Desember 2016 pukul 5:05 pm

Sedasawarsa Wacana IAIN Menjadi UIN: (Selangkah yang sangat Panjang)Oleh: Taufik Rahman(Anggota LPM SUKMA, Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga angkatan 2013).. cepat atau lambat, IAIN akan berubah ke …

SADZALI GERAM PARKIRAN USHULUDDIN DIPENUHI MAHASISWA SYARIAH
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:35 am

                 foto: Yunita SariBSukma- Parkir kendaraan kembali menuai protes, kali ini datang dari Fakultas …

Pemimpin vs Pemimpin Realitas Pemimpin dalam Program PKMD
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:20 am

penulis: Moh Husni Dalam pewayangan Sindhunata pernah berkata, rakyat adalah digdaya tanpa aji. Maksudnya rakyat memiliki kekuatan namun tanpa harga diri dan nilai. Karena itu pemimpin adalah …

To Top