Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2017
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
“Sarjana Berkualitas” yang Dirindukan
Filed Under: Opini Antasari Senin, 3 Oktober 2016 pukul 08:11 WITA — Dilihat 1,570 kali
Bagikan Tulisan Ini
6_dust_muhammad-_portrait_of_shah_abul_maali-_ca-_1556_aga_khan_collection

Oleh: Muqarramah Sulaiman Kurdi, S.Pd., M.Pd.I

*Tenagkarraa Pendidik Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Antasari Banjarmasin

*Peneliti kajian critical pedagogy, interfaith dan pendidikan multikultural

A scholar who cherishes the love of comfort

is not fit to be deemed a scholar” -Lao Tzu

Diskursus tentang sarjana dan perkembangannya di Indonesia dalam kajian pedagogi kritis mungkin tak banyak yang menelitinya di dunia akademis, dan atau menuliskannya dalam suatu skripsi, tesis ataupun disertasi. Dalam perspektif kontruktivis, hal ini sama artinya melakukan otokritik dan memetakan secara apa adanya dunia kesarjanaan itu sendiri, dengan perspektif suatu bagian kontribusi agar dikemudian hari ‘sarjana’ semakin lebih baik lagi (barometer futuristik). Ketika berbicara tentang “Sarjana” dalam konteks modernitas, seseorang mungkin memandangnya dalam terma modernisme-kapitalisme-pragmatisme, dimana strata kehidupan meningkat atau bahkan prestise tersendiri bagi seorang sarjana yang memiliki embel-embel titel. Namun perlu juga secara adil memandangnya pada dimensi lain, misal terbatas pada terminologi yang berlaku pada tahun 40-an dimana Tan Malaka menghasilkan karya Madilog, atau bisa juga dilihat pada abad dimana Lao Tzu hadir dengan segala keidealitasannya dalam memaknai seorang sarjana. ‘Sarjana’ memang istilah yang eksklusif dan tentu siapapun bisa mendefinisikanya. Tapi tentunya istilah sarjana haruslah diperspektifkan sebagai suatu kata benda yang lahir dari proses fleksibel dunia pendidikan dan integrasinya dengan perubahan fenomena, bentuk, materi, informasi, tujuan-ambisi, dan pemikiran. Oleh karenanya pemaknaan ‘Sarjana’ haruslah dilihat dengan pendekatan yang interaktif, intertekstual, dan dinamis.

Sarjana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalahorang pandai (ahli ilmu pengetahuan); dan juga bermakna gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi;Sarjana merupakan sintesis dari manusia yang dinamis, sempurna, cerdas, memiliki rasa inkuiri yang tinggi, atau pada konteks terbaik disebut sebagai orang yang terpelajar. Ia menjadi bentuk dari ekspresi tingkat kejeniusan seseorang dengan segala atribut titel yang variant. Titel diambil dari bahasa Latin, ‘Titulus’. Titel pada tahun 93-an ke bawah title sarjana di Negara Indonesia adalah Doktorandus (Drs.), Doktoranda (Dra.), dan juga Insinyur (Ir.). Kemudian pada tahun-tahun belakangan (1993 ke atas) bermunculan variasi gelar sesuai dengan sarjana yang dibutuhkan masyarakat. Misalnya Sarjana Kedokteran (S.Ked), Sarjana Kedokteran Gigi (S.KG), Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz), Sarjana Peternakan (S.Pt), Sarjana Ilmu Politik (S.IP), Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.IP), Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP), Sarjana Intelijen (S. In.), Sarjana Ekonomi Islam (S. E. I.), Sarjana Ekonomi (S.E.), Sarjana Komputer (S.Kom.), Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.), Sarjana Keperawatan (S.Kep.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Hukum Islam (S. H. I.), Sarjana Administrasi Bisnis / Administrasi Niaga (S.AB.), Sarjana Pertanian (S.P.), berubah menjadi Sarjana Agroteknologi (S. Agr), Sarjana Teknik (S.T.), Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.), Sarjana Agama (S.Ag.)/Sarjana Pendidikan (S.Pd)/ Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.), Sarjana Ilmu Kepolisian (S.IK.), Sarjana Psikologi (S.Psi.), Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.), Sarjana Sosial (S.Sos.), Sarjana Kehutanan (S.Hut.), Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.), Sarjana Syari’ah (S.Sy.), Sarjana Sains (Teologi) (S.Si. (Teol.)), Sarjana Teologi Islam (S.Th.I.), Sarjana Teologi Kristen (S.Th.), Sarjana Sains (S.Si.), Sarjana Sastra (S.S), Sarjana Sains Terapan Pemerintahan (S.STP), Sarjana Farmasi (S.Farm.), Sarjana Seni (S. Sn), Sarjana Desain (S.Ds), Sarjana Desain (S. Ds), Sarjana Administrasi Publik / Administrasi Negara (S.AP), Sarjana Pariwisata (S.Par), Sarjana Manajemen Bisnis (S.Mb), Sarjana Arsitektur (S.Ars), Sarjana Kedokteran Hewan (S.KH), Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel), Sarjana Sistem Informasi (S.SI), Sarjana Ilmu Komunikasi/ Jurnalistik/ Hubungan Masyarakat/ Periklanan/ Televisi dan Film/ Manajemen Komunikasi dan Media (S.I.Kom), Sarjana Ilmu Komputer (S.T./S.Si./S.Kom./S.E./), Sarjana Psikologi (S.Psi), dan lain sebagainya. Dan sekarangpun untuk Perguruan Tinggi yang belandaskan Agama ada perubahan gelar akademik. Ditjen Pendis Kemenag mengemukakan tentang PMA (Peraturan Menteri Agama) RI nomor 33 Tahun 2016 Tentang Gelar Akademik PTKI yang berubah. PMA yang baru menyebutkan perubahan-perubahan titel, misalnya untuk ke-Ushuludin-an gelarnya S.Ag (Sarjana Agama) secara keseluruhan, namun untuk Pemikiran Politik Islam bergelar S.Sos (Sarjana Sosial), dan Psikologi (Islam) bergelar S.Psi (Sarjana Psikologi); ke-Syariah-an gelarnya S.H (Sarjana Hukum), Ekonomi dan Bisnis bergelar SE (Sarjana Ekonomi), khusus Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah bergelar S.Tr.Akun (Sarjana Terapan Akuntansi), dan Akuntansi Syariah bergelar S.Akun (Sarjana Akuntansi); Untuk Adab bergelar S.Hum (Sarjana Humaniora), untuk Dakwah dan Komunikasi bergelar S.Sos (Sarjana Sosial). Ke-Tarbiyah-an gelarnya menjadi S.Pd (Sarjana Pendidikan), dan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam bergelar SIP (Sarjana Ilmu Perpustakaan). Titel yang disandang bukan suatu kumpulan abjad tiga empat digit tanpa makna. Gelar-gelar tersebut tentunya memiliki makna mendalam, yang berarti individu penyandang gelar tersebut bisa dikatakan ahli ( expert ) dalam keilmuannya masing-masing.Segala rumpun ilmu yang ada dengan segala visi misi prodi/jurusan/fakulas/institusinya tersebut menawarkan out put masing-masing, yang keseluruhan (diharapkan) terserap, berguna dan memberikan kontribusi di dan untuk masyarakat. Dan kemudian, tentu sajadengan segala atributnya tersebut, berbeda zaman berbeda pula kultural-politik fenomena seorang sarjana.

Sarjana dalam pergulatannya di dunia global memilki makna ganda (dua wajah) yang bertolak belakang tetapi dimakna menjadi satu terma. Seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan, satu sisi sarjana merupakan bentuk afirmasi pengembangan adicita (ideologi) khittah seseorang yang lulus di perguruan tinggi dengan segala bentuk harapan dan tumpuan untuk kemajuan masyarakat; mengikis kebodohan, memusnahkan penindasan, dan mengganti kemiskinan menjadi kemakmuran-kesejahteraan. Dengan ilmu yang dimilinya ia turut serta aktif dalam memajukan Negara. Disisi lain, sarjana adalah bentuk afirmasi dari pengembangan industri itu sendiri, dengan titel-nya yang beragam ia siap menjadi sumber daya manusia kapitalisme dan ‘robot pintar’ dalam arus globalisasi. Pun faktanya Sarjana dengan nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang memadai belum tentu bisa langsung terjun dimasyarakat. Teori yang dipelajariya dengan segala keidealitasnya ketika di bangku perkuliahan membuatnya terkadang masih harus terseok-seok mencari pekerjaan. Persaingan dunia kerja yang keras dan dunia industri yang ‘rigid’ menghendaki sosok sarjana yang tidak hanya profesional dalam ilmunya, namun juga cerdas bersikap, praktis, cekatan, decisive (tegas-meyakinkan), loyal, menjalankan tugas dengan baik, produktif, berorientasi pada target, memiliki motivasi yang tinggi, tepat waktu, sabar, pekerja keras, fokus, teliti, positif, optimis, mampu berinteraksi sosial dan bekerjasama. Semua kualifikasi abstrak dari interpersonal dan intrapersonal dunia kerja ini bisa didapat (tentu saja) tidak hanya ketika di dalam kelas semasa perkuliahan berlangsung, namun juga dari pembiasaan di luar kelas ketika menyandang pekerjaan sebagai ‘mahasiswa’. Ia terasah menjadi pribadi yang telah disebutkan ketika ia benar-benar aktif melibatkan diri untuk berinteraksi, berorganisasi, bersosial dan bermasyarakat. Dalam pergulatannya tersebut, sarjana mengalami banyak tantangan. dan ini bisa dijadikan retrospeksi khittah seorang sarjana yang dikehendaki. Ada tiga retorika pertanyaan (retorical question) yang bisa dijabarkan sebagai pemetaan tantangan dalam dimensi internal maupun dimensi eksternalnya. Pertama, apakah sarjana bisa mempertahankan nilai-nilai adicitanya di tengah gelombang globalisasi? Kedua, apakah sarjana bisa aktif menjadi bagian masyarakat (bekerja dan berkarya) tanpa menghilangkan ciri keintelektualannya?. Ketiga, Apakah sarjana mampu membuktikan di masyarakat atas nilai IPK-nya yang cumlaud (Pujian) dan atau kesarjanaannya? Keempat, Apakah sarjana yang ada dengan segala keilmuan dan keprofesionalannya siap mengarungi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean? Kesemua pertanyaan tersebut urgen dijawab karena ia merupakan refleksi fakta realitas yang akan menjawab sarjana yang dirindukan.

Sarjana dewasa ini menghadapi banyak tantangan (baik dalam dimensi internal maupun dimensi eksternal) dari kemodernitasan dunia. Hadirnya profesionalisme yang tinggi, integritas, dan pribadi yang unggul serta merebaknya bentuk individualisme, ego sentrisme, persaingan, kekerasan, dan penindasan dalam interaksisosial maupun dunia kerja merupakan hasil dari dimensi tantangan yang ada. Tantangan Pertama, kemajuan global di bidang pengetahuan sains, teknologi dan informatika berdampak sangat luas, implikasinya berpengaruh pada ranah sosial, politik, budaya, pendidikan, dan bahkan agama. Imbasnya Sarjana lulusan perguruan tinggi harus pintar memosisikan diri, apakah menjadi eksekutif idealis dengan adicitanya yang luhur atau apakah tertempa dan terjerambab menjadi individu pragmatis-materialis-hedonis dengan segala konsekuensi negatifnya (korupsi, manipulasi dan atau keserakahan).

Tantangan kedua dan ketiga, sarjana diidentikkan dengan intelektualitas. Sosok ‘learned man’ dikehendaki mengarah pada individu pemikir dalam merespon suatu fenomena sosial tertentu, fungsi sosial atau ia menjadi bagian panggilan historis. Sebagai bagian ‘kelas berpengetahuan’, sarjana dihadapkan pada perspektif problematik yaitu persandingan antara struktur dan fungsi sosialnya dengan struktur kekuasan atau ekonomi serta kerangka pengetahuan (intelektual). Dengan segala kualitas yang dimiliki, apakah sarjana ingin terjun di masyarakat sebagai seorang pemikir ataukah hanya sekedar menjadi seorang pekerja manual? Tentunya intelektual kesarjanaan yang dikehendaki adalah mereka yang tidak melakukan aktivitas yang bersifat praktis dengan tujuan yang tidak futuristik. Namun praksis untuk mengakomodir keduanya tidak semudah membalik telapak tangan. Dalam keintelektualannya, sarjana dihadapkan pada aktualisasi bukti sebagai seorang sarjana. Mereka yang bisa menulis karya ilmiah (skripsi misalnya) dan nilai cumlaude tentu keintelektualnya terlihat nyata, namun apakah dengan serta merta keprofesionalannya dalam bekerja juga terakomodir? Apakah fakta sarjana ‘intelek’ yang ditolak lamaran kerjanya karena track record profesionalisme, pengalaman, dan aktif organisasi yang minim menjadi hal urgen yang perlu diperhatikan?. Pun begitu sebaliknya, apakah mereka yang professional mampu bekerja, komunikatif, bisa berinteraksi dan vokal di masyarakat dengan serta merta juga prolific dalam karya ilmiah atau memiliki IP yang tinggi?. Apakah ada ‘oknum’ sarjana terjangkit wabah epidemik kriminalitas akademik?Apakah ada individu sarjana tersandung kasus sikap plagiarisme? atau apakah ada individu sarjana yang melanggengkan dunia kerjanya dengan ijazah palsu? Apakah ada individu sarjana yang mengambil solusi alternatif pragmatis sebagai jalan pintas melanggengkan langkah untuk dunia kerja? Apa arti semua makna pertanyaan ini? Artinya kesarjanaannya dipertanyakan. Sosok ‘terpelajar’-nya disangsikan. Berarti juga ada suatu konsep penjabaran esensi seorang sarjana dengan atribut titelnya itu seperti apa sebenarnya.

Tantangan keempat, dalam fenomena yang ada, Kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC) yang telah diberlakukan memunculkan bentuk sistem perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. Tentunya bursa tenaga kerja akan semakin meningkat (misal dalam sektor keahlian khusus seperti dokter, pengacara, akuntan dan lain-lain) dan kompetisi akan semakin ketat. Pembentukan pasar tunggal ini memungkinkan sebuah negara untuk menjual jasa dan barang, investasi dan tenaga kerja terdidik dari dan ke Negara-negara Asia tenggara dengan mudahnya. Mudah disini tentunya ketika kualifikasi dan syarat yang diminta dimiliki, siapapun bisa bekerja dengan mudah, termasuk tenaga kerja asing. Laman BBC Indonesia menyebutkan bahwa ILO, sebuah Organisasi Perburuhan Dunia telah melakukan riset dan menyebutkan bahwa dengan adanya MEA, permintaan tenaga kerja professional akan meningkat 41% atau sekitar 14 juta jiwa, untuk tenaga kerja kelas menengah meningkat menjadi 22% atau sekitar 38 juta, dan tenaga kerja tingkat bawah meningkat 24% atau 12 juta. Dengan pembukaan pasar tenaga kerja ini manfaatnya cukup besar, salah satunya daya saing ASEAN meningkat, mampu menyaingi Cina dan India dalam menarik investasi asing. Esensinya, era perdagangan bebas berfungsi dalam meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Yang menjadi tantangannya adalah kesiapan profesionalitas dan mental sarjana (pekerja muda). Kesadaran akan kompetisi antar bangsa yang kuat , bersedia membuka diri dan memantaskan diri menjadi bagian masyarakat yang unggul haruslah menjadi jargon utama, hendaknya sarjana tidak memandang perdagangan bebas ini sebelah mata. Jangan sampai tenaga kerja lokal yang berkuliats (karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi/berbahasa asing) akhirnya tersisihkan oleh tenaga kerja asing.

Berdasarkan pemaparan tantangan tersebut, ada beberapa eksponen yang bisa dijadikan sebagai formula khittah seorang sarjana dengan segala atribut hedonisme dan pragmatisme yang melingkarinya. Eksponen pertama, sebagai sarjana bagian output akademisi sudah seyogianya membuktikan di dunia sebenarnya (dunia di luar kampus) sebagai sosok cendikiawan yang menjunjung tinggi keilmuan, keilmiahan, dan berusaha senantiasa menjaga kode etik sarjana sebagai bagian output akademisi. Menjunjung tinggi nama baik almamater, berusaha menunjukkan yang terbaik dari ikrar setia sarjana yang telah diucapkan ketika wisuda, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat dengan cipta rasa dan karsa, baik pemikiran maupun aksi tindakan yang berupa tulisan dan atau non tulisan. Hal tersebuttentu tidaklah gampang. Ia hanya mampu dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari oleh individu yang konsisten dan memiliki komitmen yang kuat dari intrapersonalnya sebagai seorang sarjana. Sarjana yang memiliki dan yang membudayakan kultur akademik religius akan mampu menjadi sarjana idealis dengan adicitanya yang luhur dan terhindar menjadi ‘monster’ pragmatis-materialis-hedonis (serakahisme/mental serakah; dan permisivisme/ menghalalkan segala cara).Perguruan Tinggi yang memiliki budaya akademik-religius sedikit banyak tentu memberikan implikasi positif dan pengaruh bagi seorang sarjana, karena: Pertama, kultur akademik-religius memungkinkan sarjana untuk memiliki nilai-nilai akademik-religius itu sendiri. Sarjana tersebut tentunya memiliki kemampuan analitis, dapat mengambil pilihan maupun mampu memecahkan masalah, menguasai ilmu pengetahuan, gemar dalam belajar (pengejawantahan dari long life education), daya kreatif, imajinatif, objektif, berfikir ilmiah, rajin, skillful (cakap, mahir, cekatan), kerja keras, tahan uji, inklusivist, bersikap toleransi terhadap adanya perbedaan, futuristic, memiliki sopan santun, bermoral, berakhlak mulia, dan religious substantif (esoteric). Nilai-nilai akademik-religius tersebut secara otomatis ada pada dirinya karena kultur akademik-religius tersebut mempengaruhinya; Kedua, budaya akademik-religius memungkinkan sebagai patron sekaligus protector dari pengaruh nilai-nilai modernitas yang negatif. Betapa budaya modern global village diisi dengan kehidupan yang penuh nilai-nilai materialistik-fatalistik, yang jika salah melangkah maka seorang sarjana bisa terperosok ke dalam jurang kemodernitasan dengan segala hiasan pemanisnya dan kearogansiannya. Kultur akademik-religius adalah bentuk antisipasi dan alleviasi agar tidak terlena dan terjerumus ke dalam sikap permisivisme ( sehingga menghilangkan esensi nilai-nilai ajaran agama). Kultur akademik-religius menjadi corong utama sinergitas antara akal dan nilai spiritual. Betapa banyak sarjana yang tanpa memiliki kultur akademik religious akhirnya jatuh menjadi sosok mesin modernitas. Nilai-nilai spiritual luntur dan agama ditinggalkan karena dianggap tidak berkesusaian dengan logika pengetahuan (akal) dan keinginan-keinginan. Pun tak sedikit degradasi iman merebak, mindst “Tuhan telah Mati” menjadi formula makanan sehari-hari. Bagi sarjana yang memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (self-image), dan kebiasaan (habit) yang berorientasi pada akademik-religius tentu dalam berkarya ataupun bekerja didasari oleh niat dan sikap spiritual yang tinggi, sehingga pada akhirnya apa-apa yang dihasilkan tidak hanya bermakna positif bagi diri sendiri dan di masyarakat, tapi juga bernilai lebih di ‘penglihatan’ Tuhan.

Eksponen kedua, sosok seorang ‘sarjana’ itu tidak bisa dikaitkan hanya sebatas pada pespektif learned man dan keintelektualannya. Memang sarjana menjadi bagian elit yang dengan kepandaian mereka, fenomena sosial dan segala gejala aktivitas bisa diabstraksikan ke dalam bahasa yang cukup ilmiah dan intelek. Pola sarjana tidak cukup dalam pengertian individu yang lulus di perguruan tinggi dengan atribut titelnya. Pola sarjana yang dikaitkan dengan intelektual tidaklah salah. Karena sarjana juga identik dengan makna cendikiawan, cerdik, pandai. Namun neologisme dan polarisasi makna sarjana dalam konteks eksponen kedua dari menjawab tantangan sosok sarjana yang dirindukan perlu dikembangkan. Pengembangannya yakni sarjana selain diperspektifkan dari sisi intelektual, juga harus disandingkan dengan perspektif sisi sarjana sosoknya sebagai bagian dari anggota keluarga. Pertama, sebagai seorang intelektual dengan segala keilmuan yang dikuasai, dan dengan segala bukti kongkret keintelektualan dan kemampuannya (Ijazah dan transkrip nilai), sarjana haruslah membuktikannya. Pembuktian tidak sebatas pada bekerja seperti titelnya dan IP-nya, pembuktian yang lebih substansi dari elit output perguruan tinggi (sarjana) yakni memberikan kontribusi positif di masyarakat. Kontribusi positif yang dimaksud adalah berperan dalam membentuk kehidupan publik. ‘Bisa bekerja’ ‘mendapat pekerjaan’ atau ‘mendapatkan sumber penghidupan’ adalah hanya ‘bagian’ orang disebut ‘sarjana’, tapi bukan menjadi ‘tujuan utama’. Tujuan utama menjadi seorang sarjana adalah, dengan keintelektualannya, paham dengan kehidupan. Ia menjadi pribadi yang memahami realitas eksistensial kehidupan. Sarjana menjadi subjek (individu) di tengah alterasi sosial, memahami konstruksi empiris kontekstual, mampu hidup bermasyarakat dengan arif dan bijaksana. Dengan sikap tersebut ia menjadi bagian masyarakat yang positif. Mengamalkan, menyebarkan dan mempromosikan nilai-nilai etis-humanistik adalah kontribusi positif yang nyata di dan untuk masyarakat. Bahkan, jika ia menjadi pribadi yang autrisme (yang jauh dari literasi egoisme), dengan seluruh daya kreatifitas, keahlian, kemampuan, dan keyakinan (komitmen) yang dimiliki ia akan memberi jalan dan membuka sumber penghidupan (lapangan pekerjaan) bagi yang lain demi kesejahteraan semuanya. Selanjutnya, yang kedua, sebagai bagian anggota keluarga tentu sarjana dengan segala idealitas dan keintelektualannya tidak akan mengesampingkan perannya dalam keluarga. Tanggungjawab (responsibility) dan perannya dalam keluarga haruslah juga menjadi bagian prioritas. Sarjana yang merangkap sebagai seorang ‘Ayah’ berarti memiliki tanggungjawab sebagai kepala keluarga (paterfamilias), dan memiliki tugas ‘sakral’ mengayomi keluarga, teladan, konduktor, fasilitator dan bahkan motivator.Sarjana yang merangkap sebagai seorang ‘Ibu’ berarti memiliki tanggung jawab sebagai ‘manajer’ rumah tangga, menjadi pribadi sebagai teladan, guru, peri sekaligus malaikat.Sarjana yang merangkap sebagai seorang ‘Anak’ berarti memiliki tanggungjawab sebagai ‘pelengkap’ dan ‘penghibur’ (dalam konotasi positif). Ia memiliki peran dalam aktif mewujudkan bakti sebagai anak, dan membahagiakan kedua orang tuanya.Sarjana yang merangkap sebagai seorang kakak berarti memiliki tanggungjawab sebagai generasi keturunan tertua yang menjadi punggawa/ garda depan dalam bakti kepada orangtua dan teladan positif bagi adik-adiknya. Sarjana yang merangkap sebagai seorang adik memiliki tanggungjawab sebagai salah satu barometer pengabdian kepada orang tua dan membahagiakan keduanya serta membuat orang tua bangga. Sarjana yang merangkap sebagai bagian kelurga besar, sanak famili, hubungan keluarga dari pihak orangtua (patrilineal-matrilineal /kith-kin) memiliki tanggungjawab menjaga nama baik diri dan keluarga itu sendiri. Nama baik disini tentu saja artinya selalu besikap dan bertindak positif dalam mengisi kehidupan. Kontribusi positif tidak hanya tertuju secara riil-fisik di dalam keluarga dan di masayrakat, tapi secara metafisik tertuju untuk Tuhan. Tapi intinya Keluarga merupakan kumpulan individu yang terikat dari hubungan darah atau keturunan, yang secara emosi/hati menempati urutan atau prioritas utama dalam interaksi sosial. Keluarga bagian intelektual yang sangat penting karena ia menjadi wadah yang paling objektif, realistis, dan faktual dari seorang sarjana dalam membuktikan keintelektualannya. Dan secara ilmiah keluarga adalah bukti konkret penjabaran dari seorang intelek dalam hal-hal yang bersifat abstrak (perasaan, cinta, kasih sayang, harapan, dsb). Sejarah dan perjalanan hidup seorang sarjana yang jujur terpatri dari pribadinya sebagai bagian keluarga. Oleh karenanya dengan segala tanggungjawabnya yang ada sarjana tidak boleh egois dan tidak akan menyisihkan perannya, karena dalam keluarga inilah pembuktian dari kecerdasannya dalam memahami realitas.

Eksponen yang ketiga, Sarjana harus peka dan membuka lebar dalam memahami Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Masyarakat Ekonomi Asean merupakan tantangan modernitas yang paling real bagi sarjana. Integrasi komunitas ASEAN dalam sektor ekonomi ini jangan dianggap sebagai ancaman, namun sarjana harus memandangnya sebagai peluang. Dengan adanya MEA ini pertama, kesatuan barang dan basis produksi memungkinkan tidak ada hambatan arus barang, jasa, skilled labour, investasi, modal di kawasan Asia Tenggara; Kedua, memungkinkan adanya iklim persaingan yang adil karena adanya kebijakan peraturan kompetisi, proteksi konsumer, hak milik intelektual (IPR/Intellectual Property Rights), pajak dan perdagangan berbasis media elektronik dan online; Ketiga, adanya prioritas bagi usaha kecil menengah (UKM). Daya saing dan dinamismenya usaha akan ditingkatkan; Keempat, partisipasi pada skala global menjadi hal yang nyata. Kemampuan industri dan produktivitas serta pengembangan bantuan teknis menjadi bagian integrasi perekonomian global. Dari keuntungan-keuntungan tersebut artinya MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tentunya pasar tenaga kerja professional juga diakomodir. Meningkatnya pertumbuhan perekonomian, meningkatnya defisit neraca perdagangan Negara dan terciptanya lapangan kerja yang luas merupakan bagian dari MEA. Oleh karenanya, sarjana haruslah melihat peluang ini sebagai pembuktian seorang sarjana yang berkualitas. Memang tenaga kerja asing (dan termasuk sarjana luar) diberi ruang untuk bekerja dan memiliki profesi di Indonesia, namun begitu juga sebaliknya, orang Indonesia (termasuk sarjana Indonesia) bisa bekerja secara bebas di negara-negara ASEAN. Akuntan, auditor, management analyst, dokter spesialis, pengacara dan segala profesi professional dan keahlian dibuka seluas-luasnya untuk siapapun bekerja tapi tentu perekrutannya diafirmasi dengan persyaratan kualifikasi yang sangat ketat. Tambahan, dilansir oleh World Economic Forum laporan dari Future of jobs dan diberitakan oleh biz & tech dream.co.id bahwa diperkirakan 5 juta pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia akan diotomatisasikan, artinya dunia ketenaga kerjaan akan diambil alih oleh system mesin dan system robot. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh manusia akan diganti oleh robot. Apa arti dari semua itu? Artinya persaingan dalam dunia kerja keprofesionalan akan semakin dan semakin ketat. Dari tantangan ini, dalam rangka kemampuan daya saing tenaga kerja, ada beberapa ultimatum yang harus menjadi perhatian sarjana : Pertama, sarjana harus mengubah cara pandang tentang MEA, jadikan ia sebagai hal yang menguntungkan, bukan ancaman. Dan tentu mental dan mindset yang mantap untuk berjibaku di dunia MEA harus digaungkan; Kedua, sarjana harus berfikiran inklusif, mau belajar tentang budaya yang berbeda, kemampuan komunikasi harus ditingkatkan, termasuk dalam berbahasa asing; Ketiga, sarjana harus memperluas jaringan, persahabatan, dan komunitas di tingkat lokal, nasional maupun skala internasional. Silaturahmi dan kerjasama bisa diinisiasi oleh sarjana (jangan hanya menunggu), memberikan bantuan kepada orang lain merupakan hal yang paling kongkret bisa dilakukan dalam membangun jaringan; Keempat, sarjana harus mau meningkatkan sumber daya yang dimilikinya. Bertanya kepada yang sudah ahli, mengikuti seminar dan workshop, menggali potensi soft skill, merupakan contoh nyata dalam meningkatkan kualitas sarjana sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Kelima; sebagai output research university, sarjana prolific bisa memberikan kontribusi pemikiran/karya ilmiah dari fenomena MEA ini dari sudut pandang rumpun ilmu masing-masing; Keenam, MEA ini menjadi tantangan tersendiri bagi sarjana dalam menjaga adicitanya, ideologi etis-humanistiknya, serta keidealitasannya sebagai sosok sarjana. Ini bisa dijadikan ajang pembuktian dalam skala global bahwa output institusi pendidikan bukan output sarjana yang berbasis pada pendidikan gaya bank (banking concept education), namun sarjana adalah output institusi pendidikan yang unggul, sesuai dengan fitrah manusia, partnership, dialogis, partisipatoris, pengikis budaya bisu (submerged in the culture of silence), transformatif, memahami diri sendiri dan juga realitas sosial. Itulah seluruh ultimatum bagi sarjana. Tentunya, dari penjabaran tantangan dan keuntungan MEA yang telah disebutkan, bagi sarjana yang peka tidak akan membuat dirinya hanya berpangku tangan, menjadi penonton sebagai bagian Masyarakat ASEAN, dan atau bahkan cuek dalam menyikapi fenomena MEA tersebut.

Itulah tiga eksponen realitas yang bisa dijabarkan dari idealitas sarjana modern berkualitas yang dirindukan, Namun seluruhnya dikembalikan pada sarjana itu sendiri. Eksponen-eksponen yang dimaksud tentu tidak semudah yang dibayangkan dan yang dikatakan, teori dan praksisnya tidak selalu sepaket (juxtaposed application). Oleh karenanya, eksponen-eksponen bagi sarjana tersebut tentunya juga harus didukung oleh subjek aktif dari sarjananya sendiri, dan realitas sosial (kolaborasi yang baik dari otoritas Negara/kebijakan struktur penguasa, dan peran serta fungsi masing-masing unsur dalam struktur masyarakat). Dalam kondisi sosial yang ada tentunya eksponen-eksponen tersebut menjadi barometer keidealitasan seorang sarjana berkualitas. Faktanya dalam kajian genealogi inteligensia disebutkan memang persentase orang-orang Indonesia yang berpendidikan pada aras perguruan tinggi kurang dari 10% dari total penduduk Indonesia pada abad 21 ini. Namun, meskipun demikian, kuantitas sarjana yang ada harus dibuktikan lagi dengan kualitasnya. Tentunya, dengan segala keidealitasannya, sarjana berkualitas tidak akan terjebak dan mengkultuskan ‘titel’-nya sebagai Tuhan baru. Titel yang tersemat pada dirinya hanya bersifat temporari. Dengan segala atribut dan embel-embel title yang disandangnya, tak perlu seorang sarjana menjadi jiwa yang arogan, menjadikannya sebagai bagian prestige dan atau afirmasi strata sosial, karena pada akhirnya titel yang melekat diakhir nama adalah alm. (almarhum/ almarhumah). Dengan pribadinya yang bijak, intelektual yang berbasis pada kesadaran transsendental, sarjana berkualitas menjadi subjek yang memberdayakan dan mencerahkan dalam problematika pragmatisme. Meskipun tahu tentang industrialisasi dan ideologisasi dewasa ini, apapun titelnya (dan termasuk tanpa ada keminderan sedikitpun dengan titel-nya yang tidak sesuai dengan kebijakan terbaru), tetapi seorang sarjana yang dirindukan tidak terkungkung dalam hedonisme, pragmatisme dan kapitalisme, ia peka terhadap esensi kehidupan dan mau aktif secara positif dalam realitas sosial. Karena sejatinya “Sarjana yang mencintai kesenangan (hidup) tidak bisa dikatakan sebagai seorang sarjana”.

Arkian, 29 September merupakan hari Sarjana Nasional, tentu individu yang wisuda pada tanggal tersebut dan sarjana-sarjana (baik itu yang bertitel belakang ada unsur agama ataupun tidak) yang melihat tanggal tersebut tiap tahunnya tidak akan melihatnya sebagai tanggal biasa, pasti ada internalisasi dan momentum aksi sebagai ‘sarjana’, bukan? Sebagai penekanan renungan refleksi diri, sarjana adalah sosok ideal yang tidak hanya terpaku pada konsep normatif-idealnya, namun pribadinya juga sanggup mengarungi hingga ke tingkat empiris-sosiologis secara positif. Maka, yang menjadi pertanyaan sebagai introspeksi diri kemudian adalah “siapkah menjadi salah satu sosok sarjana berkualitas yang dirindukan?” (Courtesy: wikimedia.org)

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
WANITA BERTASBIH
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 September 2017 pukul 2:51 pm

Wanita berjubah hitam di wajahnya, selalu membawa ibadah dan doa setiap langkahnya. Ada lelaki di dalam doanya, dan ibadah adalah nafas dari perjalanan setiap penantiannya.***Suatu ketika cuaca …

Dema Uin Antasari Gelar Aksi Peduli Rohingya
Diposting pada lembaga pers tanggal 7 September 2017 pukul 2:12 pm

DEMA UIN Antasari berhasil mengantongi uang sebesar  7.501.000 rupiah dari perolehan aksi yang diselenggarakan pada Kamis pagi, (07/09) di taman hijau (tajau) kampus.  Kegiatan bertajuk …

PERKENALAN UKM/UKK DI PBAK KURANG EFEKTIF
Diposting pada lembaga pers tanggal 30 Agustus 2017 pukul 1:22 pm

Tidak adanya jadwal rolling dalam perkenalan UKM/UKK di PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) tahun ini membuat beberapa UKM kecewa. Mereka yang kecewa menilai UKMnya kurang maksimal …

To Top