Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Rektor Wartawan dan Saudara Tua
Filed Under: Opini Antasari Jumat, 10 Juli 2015 pukul 01:23 WITA — Dilihat 1,836 kali
Bagikan Tulisan Ini
IMG_7977

Syarafuddin

Dua kampus tertua di Kalimantan Selatan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari masih bersaudara. Awal berdiri, Unlam memiliki Fakultas Islamologi. Fakultas inilah yang menjadi cikal bakal IAIN. Dihuni ulama dan akademisi, IAIN memainkan peran penting dalam perkembangan Islam di Banua.

RABU (10/6) pagi, saya berhasil membuat janji wawancara dengan Profesor Akhmad Fauzi Aseri. Memimpin IAIN Antasari sejak tahun 2009, Fauzi adalah rektor generasi ketujuh. Fauzi sedang sibuk menyiapkan bahan pertemuan para ulama Kalsel. Selagi Fauzi menulisi blocknote-nya, saya diizinkan berkeliling di ruang kerja di lantai dua gedung rektorat.

Saya mengamati deretan foto rektor dan piagam pendirian IAIN. Dengan kertas yang sudah kumal dan menguning, piagam ini ditulis tangan dengan gaya yang sangat indah. Hiasannya berupa ornamen gerbang masjid berwarna hijau. Ditandatangani oleh Menteri Agama RI, Kiai Saifuddin Zuhri dan Gubernur Kalsel, Letkol Aberanu Sulaiman pada tanggal 15 Rajab 1384 Hijriyah atau 20 November 1964. Piagam ini diberi judul ‘Aldjamiah Antasari’.

“Jauh sebelum tahun 1964, gagasan pendirian kampus Islam itu sudah ada sejak tahun 1948,” kata Fauzi. Tiga tahun setelah proklamasi, digelar pertemuan antara pejuang kemerdekaan dan ulama di Barabai. Ulama dari Amuntai, Barabai, Kandangan dan Banjarmasin berkumpul. Salah satu pokok pembicaraan adalah perlunya sebuah kampus Islam.

Mereka lalu membentuk Badan Persiapan Sekolah Tinggi Islam Kalimantan yang berkedudukan di Barabai dan diketuai H Abdurrahman Ismail. Namanya lalu diabadikan menjadi nama masjid kampus IAIN. Karena menemui jalan buntu, tahun 1956 di Amuntai dibentuk lagi Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Rasyidiyah (PPTAIR). Belakangan, panitia ini bubar dengan sendirinya. “Pertama, belum adanya kekuatan politik. Kedua, keterbatasan transportasi dan telekomunikasi,” jelasnya.

Titik terang muncul tahun 1957 saat digelar reuni pejuang ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Kandangan yang melahirkan Dewan Lambung Mangkurat. Diisi kalangan sipil dan militer, setahun berselang dewan ini berhasil mencetuskan berdirinya Unlam (awalnya disingkat ULM) di Banjarmasin. Dari empat fakultas yang dimiliki Unlam, salah satunya adalah Fakultas Islamologi. “Fakultas ini lalu memisahkan diri dan menjadi cikal bakal IAIN,” ujarnya.

Tentu tak secepat itu IAIN berdiri. Setelah memisahkan diri, fakultas ini masih menginduk pada IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta. Tahun 1961, berdiri Unisan (Universitas Antasari) di Banjarmasin. “Tapi saat itu statusnya masih swasta,” tukas Fauzi.

Gagasan tahun 1948 pun kembali mengemuka. Di Amuntai sudah berdiri Fakultas Ushuluddin, di Barabai ada Fakultas Syariah, di Kandangan ada Fakultas Syariah dan Fakultas Adab, sementara di Banjarmasin berdiri Fakultas Publistik.

Tokoh yang berhasil menyatukan seluruh fakultas ini dibawah IAIN Antasari adalah sang rektor pertama, Zafry Zamzam. Zafry memimpin IAIN untuk periode 1964-1972, sebelumnya ia Dekan Fakultas Publisistik Banjarmasin. Saya bangga mendengarnya. Sebelum menjadi rektor, Zafry lebih dulu dikenal sebagai seorang wartawan. Zafry adalah pimpinan redaksi surat kabar Kalimantan Berdjoeang.

Selain di IAIN, fotonya juga terpampang di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel di Jalan Pangeran Hidayatullah. Zafry adalah Ketua PWI Kalsel pertama untuk periode 1949-1950. Lahir di Kandangan pada 15 September 1918. Zafry wafat 23 Desember 1972 dan dimakamkan di Banjarbaru.

Sekarang, kampus di Jalan Ahmad Yani kilometer 4,5 ini sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Salah satunya dengan cara mengubah nama fakultas agar terdengar lebih mentereng dan ramah pasar. Seperti Fakultas Dakwah berubah menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, atau Fakultas Tarbiyah menjadi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Saya sendiri mulai kuliah di Fakultas Dakwah pada tahun 2006. Tokoh yang paling saya kagumi adalah rektor kelima, Profesor Asywadie Syukur yang memimpin IAIN untuk periode 1995-2001. Turun dari jabatan rektor, ia terus mengajar hingga wafat pada usia 79 tahun, 2010 lalu. Mahasiswa saat itu menyebutnya sebagai sosok setengah ulama dan setengah akademisi.

Dialah yang menerjemahkan Kitab Sabilal Muhtadin, karya terbesar Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau Datuk Kelampayan. Tidak hanya menerjemahkan dari aksara Arab Jawi ke huruf latin dengan Bahasa Indonesia, Asywadie juga mensistematisasi pembahasan kitab sehingga lebih mudah untuk dibaca. Terjemahan kitab ini terbit dua jilid. Banyak dijual di Kampung Penatu, Jalan Hasanuddin HM.

Sekitar semester empat, saya diajak ke pengajian kitab Sabilal di rumah Asywadie di Jalan Adhyaksa. Situasi awal amat bersemangat, lalu berubah menjadi pening. Entah siapa yang pertama kali menghembuskannya. Kami menjadi disibukkan perkara pakaian. Kami sadar tidak mungkin datang ke rumah Asywadie dengan mengenakan jeans belel dan kaos oblong. Usai berembuk, kami sepakat mengeluarkan pakaian terbaik. Saya dan kawan-kawan memakai baju koko, sarung dan peci. Seorang senior bahkan bertindak lebih jauh dengan memakai celak mata dan mengalungkan sorban.

Bada ashar, kami tiba di rumah Asywadie. Setelah menunggu lima menit, beliau keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana kain, kemeja santai, dan rambut rapi disisir. Di tangannya sudah ada kitab Sabilal dalam bahasa asli. Beliau tercenung sejenak melihat penampilan kami. Malu dan mulai saling menyalahkan, tak ada lagi yang fokus mendengarkan pengajian. (fud/at/arh–Radar Banjarmasin)

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top