Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Ramalan Toffler dan Kita
Filed Under: Opini Antasari Selasa, 4 Maret 2014 pukul 02:24 WITA — Dilihat 2,061 kali
Bagikan Tulisan Ini
Mujiburrahman

Dr. H. Mujiburrahman, M.A.
(Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama)

Alvin Toffler, sosiolog asal Amerika kelahiran 1928, menerbitkan buku pada tahun 1970 berjudul Future Shock (Kejutan Masa Depan). Sebagai sosiolog dan wartawan majalah Fortune, Toffler mencoba memetakan perubahan masyarakat di masa depan. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, kata Toffler, di masa depan perubahan yang terjadi amatlah banyak dan begitu cepat sehingga manusia menjadi tegang dan kehilangan arah. Buku ini ternyata laris manis, jutaan kopi terjual dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, termasuk ke bahasa Indonesia. Sejak itu Toffler dikenal sebagai futurist atau futurologist, ahli masa depan.

Satu dasawarsa kemudian (1980), Toffler kembali menerbitkan buku berjudul The Third Wave (Gelombang Ketiga). Dalam buku ini ia berteori bahwa perkembangan sejarah peradaban umat manusia sudah mengalami tiga gelombang. Gelombang pertama adalah era agraris atau pertanian, di mana mayarakat masih menggunakan teknologi sederhana dan amat tergantung kepada lahan. Gelombang kedua adalah era industri di mana manusia sudah menggunakan mesin dalam berbagai aktivitas. Pada masa ini, pendidikan, hiburan, media dan rekreasi cenderung bersifat massif. Gelombang ketiga adalah era informasi atau pasca-industri. Pada masa ini, teknologi komunikasi dan informasi merajai dunia dan masuk ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah dua buku tersebut, Toffler masih terus menulis. Bukunya yang terakhir, terbit 2006 yang lalu berjudul Revolutionary Wealth (Kekayaan Revolusioner). Negara-negara industri selama ini meraih kekayaan dengan kekuatan teknologi yang mereka kuasai. Tetapi di era digital sekarang, kata Toffler, bisnis begitu terbuka. Perusahaan kecil atau besar, dapat bertransaksi via internet, mudah dan cepat. Globalisasi menurutnya, membuka ruang yang luas bagi siapa saja untuk kaya. Kantor-kantor masa depan, katanya lebih lanjut, tak memerlukan kertas lagi (paperless office), sebab semuanya serba digital, serba komputer.

Bagi kita, membaca Toffler seolah membaca mimpi-mimpi. Tetapi apa yang dikatakannya tentang shock di tahun 1970, dan gelombang ketiga tahun 1980, semua tampaknya sudah kita rasakan. Bukankah perubahan terjadi begitu cepat sekarang ini? Tahun 1970-an, televisi masih barang mewah. Tetapi di pertengahan tahun 1980-an, hampir semua rumah punya televisi. Tahun 2000 yang silam, telepon genggam masih barang mewah, tetapi sekarang hampir semua orang memilikinya. Demikianpula, saya baru mengenal internet tahun 1998 ketika kuliah di Kanada. Sekarang, internet bukan sesuatu yang aneh lagi. Anak-anak kecil sudah mengerti menggunakan internet.

Kalau kita lihat lebih jauh keadaan bangsa kita, maka ketegangan yang ditimbulkan perubahan itu boleh jadi akan semakin tinggi. Masalahnya, kita belum selesai menjadi negara industri, sudah masuk ke era teknologi informasi. Sebagian masyarakat pedalaman di negeri ini, mungkin masih masuk dalam masa pra-gelombang, yakni belum masuk ke era agraris yang sebenarnya. Ibarat Ashhabul Kahfi yang tertidur ratusan tahun, ketika jaga mereka tentu terkejut dengan keadaan dunia yang begitu lain.

Selain itu, sejak Era Reformasi (1998), perkembangan sosial politik dan budaya di negara kita berkembang begitu terbuka dan mencengangkan. Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah mengatakan bahwa kalau dulu orang teriak, ‘Sekali Merdeka, Tetap Merdeka’, kini yang terjadi ‘Sekali Merdeka, Merdeka Sekali’. Dengan adanya sistem demokrasi, masyarakat memiliki kebebasan berpendapat dan berserikat. Ruang publik terbuka dan bebas tanpa ada tekanan apapun dari negara selama hukum tidak dilanggar.

Bagi kita yang terlibat dalam kajian agama, muncul pertanyaan: Bagaimanakah posisi agama dalam masyarakat yang berubah begitu cepat ini? Sebagai sumber makna dan pegangan hidup, kiranya agama akan tetap bertahan sampai akhir zaman. Tetapi ini tidak berarti bahwa pola keberagamaan masyarakat akan sama sepanjang masa. Masyarakat agraris yang lebih kuat rasa kebersamaannya, akan berbeda dengan masyarakat industri dan informasi yang lebih menekankan hak pribadi (privacy). Ruang-ruang yang tersedia untuk ekspresi keberagamaan dalam masyarakat yang demokratis tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di bawah rezim otoriter.

Sosiolog terkemua, Peter L. Berger, pernah mengatakan bahwa dalam masyarakat demokratis, agama laksana barang dagangan yang tidak bisa dipaksakan kepada para pembeli untuk membeli. Maka masalah dakwah seolah menjadi masalah pemasaran. Agama harus dikemas dengan bungkus menarik dan kualitas yang tinggi. Sementara para ‘pembeli’ harus dapat diyakinkan bahwa agama adalah kebutuhan hidup mereka. Agama yang tampak sebagai beban dan membosankan, akan ditinggalkan orang.

Kalau kita perhatikan, para penceramah yang laku di masyarakat adalah mereka yang disukai oleh jemaahnya, entah karena ilmunya, ketampanan atau kecantikannya, suaranya, lucunya atau semuanya. Orang tidak bisa dipaksa untuk mendengarkan ceramah. Orang bahkan pergi ke majelis taklim karena ingin mendengarkan sesuatu yang ia suka mendengarnya. Demikianpula, sekarang banyak cara yang dikembangkan orang dalam menyampaikan agama. Dari latihan shalat khusyu’, training ESQ hingga umrah dan wisata reliji ke Timur Tengah. Di dalamnya terlibat agama sekaligus bisnis.

Perubahan memang sesuatu yang wajar. Hidup adalah perubahan. Tetapi tidak berarti segalanya berubah. Pepatah mengatakan: lā jadīda tahta al-syams (tak ada yang baru di bawah matahari/ kolong langit ini). Maksudnya, kehidupan sosial, budaya dan politik umat manusia tentu akan terus berubah. Tetapi manusia sebagai manusia tetaplah demikian adanya. Ia adalah makhluk ruhani yang berjasmani, yang dalam kearifan tradisional disebut ‘bayangan Tuhan’ atau teomorfis. Persoalannya, bisakah kita mensenyawakan nilai-nilai abadi itu dalam kondisi sosial, budaya dan politik masa kini?

IAIN/UIN sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam di negeri ini tentu memiliki tanggung jawab yang besar dalam menghadapi tantangan zaman tersebut. Sikap terbuka terhadap berbagai pemikiran tanpa kehilangan daya kritis, berani membuat terobosan, dan dengan rendah hati mau belajar kepada siapapun, merupakan syarat penting jika kita ingin agar alumni IAIN/UIN siap menghadapi masa depan. Seperti kata Toffler: the illiterate of the 21st Century will not be those who cannot read or write, but those who cannot learn, unlearn and relearn (orang yang buta huruf di abad 21 bukanlah orang yang tak pandai membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak bisa belajar, tidak bisa melupakan pelajaran yang ketinggalan zaman dan tidak bisa belajar kembali).

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
SADZALI GERAM PARKIRAN USHULUDDIN DIPENUHI MAHASISWA SYARIAH
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:35 am

                 foto: Yunita SariBSukma- Parkir kendaraan kembali menuai protes, kali ini datang dari Fakultas …

Pemimpin vs Pemimpin Realitas Pemimpin dalam Program PKMD
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:20 am

penulis: Moh Husni Dalam pewayangan Sindhunata pernah berkata, rakyat adalah digdaya tanpa aji. Maksudnya rakyat memiliki kekuatan namun tanpa harga diri dan nilai. Karena itu pemimpin adalah …

Lukisan Kehidupan
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 8:53 am

Sumber GoogleKarya: Siti Bulqis RadinahHidup bagai roda yang berputarKadang di atas kadang di bawahDan balik ke atas balik ke bawahBegitulah retak kehidupanJatuh bangun bukan bermakna kita kalahDan …

To Top