Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2017
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Peran Perempuan Banjar dalam Pendidikan Islam  
Filed Under: Rilis Berita Rabu, 22 Juli 2015 pukul 01:22 WITA — Dilihat 1,203 kali
Bagikan Tulisan Ini
Slide1

Sejak jaman dahulu, masyarakat Kalimantan Selatan sudah mengenal adanya kesetaraan gender. Sejak Putri Junjung Buih bertahta sebagai penguasa bumi Lambung Mangkurat, perempuan pada jaman itu tidak dibedakan dari laki-laki. Ini dibuktikan dengan dinobatkannya Putri Junjung Buih sebagai pimpinan kerajaan Dipa tahun 1384-1495 M. Sejak abad ke-19, perempuan Banjar sudah menggeluti dunia pendidikan, baik sebagai pendidik maupun yang terdidik. Kiprah para perempuan tersebut bisa dirasakan keberadaan dan manfaatnya untuk generasi berikutnya.

Dalam penelitiannya, Salasiah SE MPdI menyimpulkan bahwa Islam sebagai rahmatan lil-alamin, menghapus diskriminasi terhadap kaum perempuan. “Islam menghapus perbudakan dan memuliakan kaum perempuan. Masyarakat Banjar yang berpaham patriarki bisa menerima kenyataan bahwa perempuan mempunyai hak yang sama di berbagai bidang,” ujar Salasiah yang melakukan penelitian untuk merampungkan tesisnya di Pascasarjana IAIN Antasari.

Dalam tesisnya yang telah diterbitkan Antasari Press pada tahun 2014, Salasiah yang juga direktur utama PT Grania Lestari, menilai demokrasi pendidikan di Kalimantan Selatan turut berperan besar memberikan akses yang sama antara laki-laki dan perempuan dan dalam hak mendapatkan pelajaran dan pengajaran.

“Kita dapat ambil contoh dalam sejarah pendidikan Islam di Kalsel tercatat sudah sejak abad ke-19. Dua tokohnya misalnya, yang pertama, Fatimah binti Abdul Wahab (1775) yang dinilai sebagai perempuan pertama menggeluti dunia pendidikan dan terlahir sebagai cucu pertama perempuan dari ulama besar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sementara tokoh kedua adalah Hj Fatmah Sakrani (1897-1918) yang merupakan tokoh penggerak pendidikan terutama di Kandangan dan Amuntai,” papar Salasiah.

Berkat perjuangan itu, menurut Salasiah, perempuan Kalsel sekarang telah menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya di berbagai bidang. “Berbekal pendidikan tinggi, diharapkan muncul perempuan Banjar modern yang berani dan sanggup memimpin daerah di Kalimantan Selatan, seperti sosok Putri Junjung Buih,” tukas Salasiah. (MHM).

Courtesy: americasunofficialambassadors.files.wordpress.com.

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
BUAF Berhasil Tarik 12 Perguruan Tinggi
Diposting pada lembaga pers tanggal 19 Juli 2017 pukul 4:11 am

SukmaBorneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) merupakan forum ilmiah bagi para mahasiswa, yang baru dibentuk sekitar dua tahun lalu. Keberadaan forum ini sebagai jawaban atas keresahan para dosen, …

Berita Sukma
Diposting pada lembaga pers tanggal 29 Mei 2017 pukul 9:35 pm

BSukma_Sejak pukul 7:30 waktu setempat, telah terlihat antrian di gedung abu-abu atau Siakad oleh para orang tua dan calon mahasiswa baru untuk mengambil surat kelulusan pasca pengumuman pada tanggal …

AKSI DEMI MATA KULIAH WAJIB
Diposting pada lembaga pers tanggal 24 Mei 2017 pukul 6:11 pm

AKSI DEMI MATA KULIAH WAJIBTak seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya, mahasiswa jurusan PGMI di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ini harus melakukan pementasan guna memperoleh nilai akhir masa …

To Top