Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2017
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Menjadi Pekerja Profesional
Filed Under: Opini Antasari Kamis, 23 Februari 2017 pukul 11:04 WITA — Dilihat 562 kali
Bagikan Tulisan Ini
PI_Journey of Becoming_2015 April

Oleh: Ahmad Syawqi (pustakawan madya IAIN Antasari)

Tepat pada hari ini tanggal 20 Februari 2017 diperingati Hari Pekerja Nasional. Sejarah diperingatinya Hari Pekerja Nasional berawal dari keiginan dari berbagai Serikat Pekerja yang ada pada berbagai perusahaan yang ingin meyederhanakan dan menyatukan semangat seluruh pekerja di seluruh Indonesia. Kemudian para pimpinan Serikat Pekerja tersebut bertekad mewujudkan aspirasi para pekerja dengan mendeklarasikan pembentukan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) pada tanggal 20 Februari 1973 dengan Agus Sudono sebagai Ketua Umum FBSI pertama.

Dalam Kongres FBSI tanggal 23-30 November 1985 nama FBSI diubah menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia. Untuk menumbuhkan jati diri di kalangan pekerja Indonesia, dan untuk lebih meningkatkan kebanggaan para pekerja Indonesia dalam rangka memotivasi pengabdiannya kepada pembangunan Nasional yang dilandasi sistem Hubungan Industrial Pancasila, dipandang perlu menetapkan tanggal 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional.

Kehidupan modern seperti sekarang ini, kualitas kerja menjadi prioritas sehingga keprofesionalan sangat dibutuhkan. Hanya orang-orang dengan sikap dan kemampuan tertentu yang mampu bertahan. Sementara pekerja yang tak bisa bersikap profesional harus siap tersisih.

Terlebih di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) persaingan tenaga kerja semakin ketat. Tidak sedikit, tenaga kerja asing masuk di Indonesia dan sebaliknya tenaga kerja Indonesia mengadu nasib ke luar negeri. Persaingan dunia pekerjaaan semakin lama semakin ketat. Masing-masing pribadi berlomba-lomba menjadi nomor satu dan unggulan pada suatu perusahaan.

Profesional tidak sekedar memiliki gelar tinggi atau sertifikasi dibidang pekerjaan, tetapi bagaimana cara kita memancarkan energi, baik untuk melayani pekerjaan maupun memenuhi peran dan fungsi sehari-hari terhadap pekerjaan.

Sebagai seorang pekerja yang berpendidikan, kita tentu ingin memiliki jiwa profesional dalam bekerja. Karena seorang profesional adalah seorang yang diinginkan oleh perusahaan manapun untuk bekerja pada mereka.

Dalam istilah professional mengandung dua unsur, pertama unsur keahlian dan kedua unsur panggilan. Sehingga seorang “profesional” harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik. Penguasaan teknik saja tidak membuat seseorang menjadi “profesional”. Kedua-duanya harus menyatu.

Meraih karir yang sukses boleh dikata adalah keinginan bahkan impian para pekerja. Faktanya, meraih kesuksesan itu tidak mudah, tapi sayangnya kesulitan tersebut semakin di perparah dengan paradigm dan sifat pekerja. Kenyataannya saat ini di tengah sulitnya mencari kerja para pekerja justru menampilkan etika sebagai tenaga kerja yang sangat tidak profesional. Hal inilah yang menjadi penyebab utama seseorang sulit meraih karir yang sukses, pasalnya profesionalitas menjadi dasar yang harus di bangun setiap pekerja jika mereka ingin sukses.

Selama ini banyak yang mengklaim dirinya profesional. Seorang karyawan yang rajin bekerja dengan kedudukan yang bagus sudah menganggap dirinya profesional. Padahal untuk menjadi profesional, profesi apapun dia, apakah seorang guru, dokter, pustakawan, maupun lainnya, tidak cukup hanya dengan rajin dan memiliki kedudukan yang bagus. Lalu gimana supaya bisa profesional?

Memang, untuk menjadi profesional bukanlah hal yang mudah. Untuk mencapainya kita perlu bekerja lebih keras lagi. Seorang profesional senantiasa mampu bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seorang profesional juga mempunyai daya juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah jika menghadapi kesulitan. Kalau kita selalu ogah-ogahan dan malas tentu bukanlah seorang profesional.

Selain mampu bekerja secara mandiri, seorang profesional juga mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Karena seberapapun hebatnya seorang profesional, ia tetap tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri. Kita tetap membutuhkan kehadiran orang lain untuk mencapai visi dan misi yang diinginkan.

Seorang pekerja yang dikatakan profesional bila menguasai dengan baik pekerjaan yang kita geluti. Maksudnya, kita tahu secara pasti bagaimana menyelesaikan pekerjaan, seberapapun sulitnya. Tahu bagaimana mengatasi setiap persoalan. Dan kita memang benar-benar mengerti apa yang kita kerjakan. Intinya, seorang profesional adalah seorang problem solver atau pemecah masalah bukan trouble maker atau pencipta masalah.

Dalam bekerja, seorang profesional juga harus memiliki loyalitas yang tinggi. Artinya kita akan bekerja secara total dan tidak setengah-setengah. Dengan loyalitas, kita tidak akan merasa terbebani dengan pekerjaan kita. Dengan loyalitas pula kita akan semakin mencintai pekerjaan yang kita lakukan.

Seorang juga bisa dikatakan profesional jika memiliki komitmen terhadap pekerjaan. Semakin tinggi komitmen kita terhadap pekerjaan, maka semakin tinggi pula profesionalisme kita. Karena dengan komitmen, kita akan menjalani pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sehingga, seberapapun beratnya pekerjaan, kita akan menjalaninya dengan penuh suka cita.

Seorang profesional tidak akan melakukan hal-hal yang dapat menodai profesionalismenya.  Dalam bekerja, kita senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran dan moral positif. Untuk itulah, seorang profesional harus memiliki integritas yang tinggi. Dengan integritas, kita tidak akan tergoda untuk melakukan sesuatu yang dapat merusak moral dan nama baik kita sendiri. Karena memang, untuk menjadi profesional, seseorang tidak cukup hanya dengan ahli dan pandai dalam pekerjaan saja, tetapi juga harus didukung oleh moral dan akhlak yang positif.

Seorang pekerja yang profesional memiliki motivasi yang tinggi. Tanpa motivasi sulit rasanya bagi kita untuk mencapai tujuan. Dengan motivasi, akan membantu dalam mencapai tujuan, harapan, dan cita-cita seseorang. Kita pun akan lebih bersemangat dalam bekerja dan berkarya. Ingat, seorang profesional mampu menjadi motivator bagi dirinya sendiri. Sehingga tidak akan ‘down’ dan suntuk jika menghadapi situasi yang sulit. Seseorang mampu membangkitkan gairah dan semangatnya sendiri, di saat yang lain sudah nyaris kehilangan gairah kerja. Jadi, seorang profesional juga bisa menjadi motivator bagi yang lain.

Seorang pekerja yang profesional mampu membedakan secara jelas mana kepentingan kantor dan mana yang menyangkut kepentingan pribadi. Contohnya jika kita menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, kita sudah termasuk tipe karyawan yan tidak profesional. Terlebih ada barang-barang kantor yang sengaja kita bawa ke rumah. Itu lebih parah lagi. Kita sudah termasuk karyawan yang tidak profesional.

Semoga momentum hari pekerja nasionaI ini, mampu menjadikan kita seorang pekerja yang  professional, sehingga mampu memberikan kebaikan bagi orang lain. Khairunnas anfauhum linnas “sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan kebaikan bagi orang lain”.

(courtesy: http://mediakalimantan.co.id; http://www.professionalityinstitute.com).

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
Akhamd Syaikhu Bicara Soal Mars dan Himne UIN Antasari
Diposting pada lembaga pers tanggal 16 Agustus 2017 pukul 2:19 pm

Mars dan Himne UIN Antasari Banjarmasin telah dinyanyikan di depan publik untuk pertama kalinya pada Rabu malam (09/08) di Hotel Aria Barito. google.comAkhmad Syaikhu selaku Kepala Humas UIN …

Kebijakan PDAM Banjarmasin Dianggap Cacat Hukum
Diposting pada lembaga pers tanggal 16 Agustus 2017 pukul 10:39 am

SukmaBSUKMA_Zainul Muslihin menepati janjinya untuk melakukan aksi lanjutan terhadap kebijakan pemakaian tarif air minum oleh PDAM Banjarmasin yang dirasa sangat memberatkan masyarakat. Pada aksinya …

2314 Peserta PAHLAWAN di UIN Antasari Banjarmasin
Diposting pada lembaga pers tanggal 4 Agustus 2017 pukul 2:59 pm

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) merupakan perubahan dari Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) yang telah ada sejak tahun 2014 hingga 2016 untuk mahasiswa baru. …

To Top