Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Mendaki Sukses Tata-Kelola Perguruan Tinggi
Filed Under: Opini Antasari Minggu, 29 Maret 2015 pukul 23:56 WITA — Dilihat 2,578 kali
Bagikan Tulisan Ini
Prof-Fauzi

Oleh: H. Akh. Fauzi Aseri

Saat ini, secara primer, perguruan tinggi yang sukses seringkali ditentukan oleh kualitas-kuantitas pembelajaran dan penelitiannya, bukan dikarenakan manajemen kelembagaannya.

Kendatipun demikian, sesungguhnya manajemen atau tata kelola yang baik dapat melampaui waktu yang menyediakan kondisi di mana pembelajaran dan penelitian dapat berkembang pesat. Kita tidak dapat memberikan pertimbangan sebagaimana kita seharusnya dapat membuat sebuah perguruan tinggi sukses, terutama terkait keadaan di mana pimpinan menekankan bahwa kesuksesan ditentukan oleh mahasiswa. Padahal semuanya berkontribusi: pembelajaran yang baik, penelitian yang reliabel, layanan akademik yang prima, atmosfir pembelajaran yang kondusif, lingkungan akademik dan sosial yang terkelola. Semua itu berkontribusi terhadap pengalaman pembelajaran yang baik dan pendidikan yang efektif. Bahkan tak jarang efek baiknya menjalar dalam jangka panjang, berupa afeksi dan loyalitas mahasiswa kepada perguruan tinggi terkait.

Dalam kesempatan ini akan diungkap sekelumit gambaran terkait tata kelola perguruan tinggi yang sukses.

Karakter Perguruan Tinggi yang Sukses

Melalui pendekatan quantitative evidence, kita dapat katakan bahwa kesuksesan perguruan-perguruan tinggi ditentukan oleh dua faktor utama: satu sisi adalah terkait dengan pembelajaran dan pada sisi yang lainnya, sisi penelitian. Kedua-duanya mesti istimewa. Yang menarik, ada keterhubungan yang erat antara dua sisi ini dengan peran sosial/pengabdian perguruan tinggi. Pada umumnya, semakin tinggi performa “core bisnis” PT dalam hal pembelajaran dan penelitian, maka makin besar peran serta pengaruhnya di masyarakat luas.

Beberapa indikator yang didedahkan seperti oleh Research Assessment Excercise (RAE) dan Carnegie Classification of Research University menunjukkan kenyataan bahwa perguruan tinggi yang kurva performanya meningkat ditentukan oleh keputusan membuat “sebuah momentum” di mana kesuksesan kian memperkuat kesuksesan.

Namun seperti yang seringkali saya tekankan, bahwa tidak ada solusi yang bersifat absolut untuk membuat sebuah perguruan tinggi menjadi sukses. Ada beberapa perguruan tinggi yang didirikan sejak abad pertengahan yang tidak memiliki ranking di RAE, misalnya.

Manajemen strategis pada PT

Barangkali akan disampaikan bahwa koordinasi dan penekanan pada waktu menghajatkan skil leadership tingat atas “yang tidak biasa”.

Ada sementara fakta dari dunia perguruan tinggi sendiri, bahwa bukan kepemimpinan kharismatik yang sangat diperlukan untuk mewujudkan manajemen yang efektif. Justru beberapa penelitian menerangkan dengan gamblang bahwa dalam “sistem aktivitas yang terdistribusi” yakni pada kondisi dan titik di mana pengambilan keputusan bersifat tersebar (Jarzabkowski: 2003). Dengan kata lain, kepemimpinan individual tidak berpengaruh banyak untuk menggapai kesuksesan perguruan tinggi. Yang justru diperlukan adalah budaya organisasi (organizational culture) yang mendorong kesadaran akan samanya tujuan; yang mengundang adanya debat ketat nan menarik guna terwujudnya sebuah keputusan yang dilaksanakan dalam skala waktu yang tepat.

Dengan demikian, manajemen sentral boleh saja menginisiasi kebijakan namun tugas yang lebih penting adalah mengkordinasi serta merespon proposal strategis terkait yang diajukan dari bawah. Karena memang sejatinya, strategi lahir dalam lingkungan yang mendorong ide-ide segar. Makanya, manajemen strategis adalah tentang pengisian bahan bakar dan “menampi” proses ini dengan memastikan bahwa ide-ide yang harus didukung relevan dan konsisten dengan kerangka tujuan kelembagaan yang sudah mapan. Perguruan tinggi yang baik mendorong iklim inovasi dan pengembangan, di mana insiasi dan ide baru didukung dan dihargai. Dalam manajemen strategis, iklim kompetisi adalah tentang menciptakan kesuksesan bukan tentang menopang status quo.

Searah dengan itu, perguruan tinggi mesti melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Secara lebih elaboratif, perlu disadari paradigma pembinaan aparatur perguruan tinggi pun kian bergeser pada tiga ranah sekaligus: (1) kemandirian (autonomy), (2) akuntabilitas (accountability), dan (3) jaminan kualitas (quality assurance). Dalam al-Qur’an sendiri, disebutkan tiga hal ini. Yang pertama, kemandirian. Nilai kemandirian misalnya dapat kita dapatkan dalam surah al-dhuha. Kalau ingin sedikit dielaborasi, surah ini mengajarkan nilai kemandirian yang bersumber pada nilai tauhid kepada Allah. Nilai inilah yang melahirkan al-Dhuha (giatnya kerja) demi kemandirian. Sementara, akuntabilitas tentu sangatlah penting. Dalam al-Quran kata-kata sepadan yang menunjukkan arti akuntabilitas dapat diwakili oleh dua kata: “amin” dan “hafiizh”.

Bila kita melihat perguruan-perguruan tinggi yang melorot prestasinya, kita akan menemukan di dalamnya struktur bagian yang kaku, kegagalan untuk mengenali dinamika lingkungan yang selalu berubah, hirarki dan proses pengambilan keputusan yang konservatif dan keengganan untuk bersaing.

Mengelola Keuangan Perguruan Tinggi

Secara ringkas, keuangan perguruan tinggi perlu agar stabil. Kestabilan ini merupakan syarat penting dalam membentuk kesuksesan yang berkelanjutan dari sebuah perguruan tinggi. Stabilitas keuangan ini memiliki karakteristik tertentu, di antaranya:

a)    Solvabilitas jangka pendek

Sebuah perguruan tinggi mesti konsisten dari tahun ke tahun tingkat kreditnya (dalam proyeksi keuangan lima tahunan, tahun terakhir juga mesti dijaga nilai konsistensinya). Oleh karena itu menjadi penting bagi PT untuk memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dan mempertahankan dana likuid yang cukup untuk menutupi barang-barang tertentu.

b)    Retensi cadangan

Perguruan tinggi sejatinya membangun dan mempertahankan cadanga yang dapat menyangga dan menyerap perubahan tak terduga dalam lingkungan pendanaan eksternal, merespon perubahan pasar (konsumen), atau memperbarui aset. Sebuah perguruan tinggi tidak mampu merebut kesempatan tanpa kemampuan untuk menarik cadangan dengan cepat untuk mendukung aksi-aksi kelembagaannya.

c)     Manajemen yang efektif dari utang jangka panjang

Ada beberapa perguruan tinggi yang justru meminjam untuk proyek-proyek yang tidak dapat diandalkan untuk menutupi pembayaran bunga modal, sehingga menempatkan mereka dalam resiko jangka panjang.

d)    Manajemen yang efektif dari “warisan”

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa perguruan tinggi pada umumnya melakukan penghematan dari item pemeliharaan gedung. Penghematan ini dilakukan tentu saja dalam konteks kesulitan keuangan (financial stringency) yang boleh jadi mendera perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang tidak berinvestasi secara tepat dalam pemeliharaan gedung sebenarnya sedang meletakkan resiko tinggi yang berjangka panjang bagi mereka sendiri. Karena itulah, barangkali indikator terpenting dari kesehatan keuangan perguruan tinggi adalah ukuran dana pemeliharaan jangka panjang mereka.

e)     Kemampuan menghasilkan dana non-negara

Ada keperluan yang kian mendesak untuk dapat menghasilkan dana berbasiskan diversifikasi untuk menyiapkan bila sewaktu-waktu terjadi pengurangan dari pendanaan negara dan untuk memberikan dukungan inovasi dan inisiatif baru.

Mengelola kesuksesan

Pengalaman dan data menunjukkan bahwa perlu ditekankan pentingnya konsep “inti kemudi yang diperkuat” dan peran eksekutif atau pelaksana dalam implementasi dan manajemen hari ke hari (day to day management/idarah yawmiyyah). Instrumen untuk mewujudkan manajemen efektif adalah dengan memperkuat kolegialitas.

Benar, bahwa tidak ada indikator absolut dari apa yang membuat perguruan tinggi sukses, apakah itu umurnya, lokasi, ataupun tata disiplin yang mendasar. Meskipun semua ini dapat berkontribusi besar, manajemen dalam arti luas dapat membuat kontribusi penting baik untuk menciptakan keberhasilan dan untuk mempertahankannya. Namun perlu digarisbawahi, secara blok organisasi, bagian akademik merupakan bangunan penting dari suksesnya sebuah perguruan tinggi. Makanya sifatnya perlu didesain agar tanpa lapisan perantara (dengan komunikasi garis pendek) agar pengambilan keputusan bersifat cepat dan tepat.

Pada sisi keuangan, tentu stabilitas keuangan merupakan komponen penting. Langkah pertama adalah membuat sumber pendanaan yang terdiversifikasi dan mengembangankan basis entreprenuership.

Pada saat yang sama, dalam masyarakat dewasa ini, pelebaran peran sosial dan ekonomi perguruan tinggi berperan penting terhadap kesejahteraan perguruan tinggi itu sendiri. Masyarkat modern dapat memaksakan meningkatnya beban kompleksitas dan koordinasi pengelolaan perguruan tinggi; menuntut keberhasilannya. Respon terhadap tuntutan masyarakat ini sangat bergantung pada perekrutan profesional dan sejauh mana kontribusi mereka dapat diintegrasikan ke dalam kerangka tujuan dan kebijakan perguruan tinggi.

Untuk itu, melek keuangan diperlukan dan tingkat puritanisme anggaran harus didorong. Apalagi bila itu dikaitkan dengan politik anggaran nasional yang dapat sewaktu-waktu berubah.

Selanjutnya, perlu juga dibangun reputasi dan gambaran baik perguruan tinggi. Bahkan dapat dianggap reputasi ini aset yang paling berharga dari sebuah perguruan tinggi. Dengan memelihara ini, kepercayaan berbagai pihak akan tumbuh dan akan meningkatkan daya saing-tawar dalam peta perguruan tinggi dalam skala yang lebih luas.

Penutup

Dengan demikian, pengelolaan perguruan tinggi adalah proses holistik, fungsi seluruh unit kerja sangat bertautan erat dan saling bergantung. Dampaknya, kelemahan satu fungsi dapat memengaruhi yang lain, dan kekuatan satu fungsi dapat menguatkan yang lain. Hal itu persis seperti ilustrasi yang pernah digambarkan Nabi Muhammad SAW, terkait masyarakat muslim yang seperti satu tubuh. Menyadari adanya interdependensi ini dapat dinilai sebagai langkah awal kunci keberhasilan perguruan tinggi.

Semua itu, harus dilakukan dengan modal ambisi (himmah) yang kuat, kesadaran akan peran (muhimmah) serta pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (mahammah/good governance).[1] Wallahu’alam.

[1] Dalam penyelenggaraan dan demi mewujudkan visinya, sebuah institusi perguruan tinggi harus memenuhi prinsip-prinsip partisipasi, orientasi pada konsensus, akuntabilitas, transparansi, responsif, efektif dan efisien, ekuiti (persamaan derajat), inklusifitas, dan penegakan/supremasi hukum

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top