Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Karena Berilmu, Jadilah Manusia
Filed Under: Opini Antasari Senin, 13 April 2015 pukul 06:37 WITA — Dilihat 2,062 kali
Bagikan Tulisan Ini
DR-Sukarni

Oleh: Dr. H. Sukarni, M.Ag.

Masih ingat cerita Adam yang memiliki keunggulan dari para malaikat karena Adam diberi pengetahuan oleh Allah tentang “nama-nama”. Cerita itu terdapat dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 31 – 33. Semula para malaikat yang tercipta sebagai makhluk bersih tak berdosa mengusul keberatan kepada Allah agar mempertimbangkan rencana menciptakan Adam. Akan tetapi, Allah meyakinkan kepada para malaikat bahwa Adam memiliki kelebihan melalui ilmu yang berbentuk pengetahuan tentang nama-nama. Walhasil, Allah menunjukkan kelebihan itu dan para malaikat akhirnya mengakui keunggulan Adam dan tunduk sesuai perintah Allah.

Nama-nama (al-asma`) adalah awal dan akhir sistem pengetahuan manusia. Sebagai awal, berarti melalui nama-nama kita membuka tabir cahaya pengetahuan dari kegelapan kejahilan. Anak-anak sejak awal belajar mengenal nama-nama yang sangat banyak sebanyak obyek ciptaan Allah. Sebagai akhir sistem pengetahuan, al-asma` bermakna teori dan qaidah. Bukankah, semua pengetahuan diakhiri dengan pencantuman predikan mulai dari yang konkret hingga yang sangat abstrak dalam bentuk teori. Jadi, manusia yang dilambangkan dengan Adam dalam tiga ayat tersebut  memiliki potensi untuk menggapai keunggulan dari makhluk lain.

Dalam sejarah pengetahuan, pengenalan nama-nama menjadi awal petualangan kita sebagai Homo Sapiens. Mari renungkan, setiap kita, sejak kecil terbata-bata diajarkan menyebut orang-orang yang paling dekat dengan kita melalui nama predikatnya… papa, mama, dst. Dengan modal pengetahuan tentang nama-nama tersebut kita memiliki kemampuan pengetahuan baru yang meningkat  menjadi kemampuan klasifikasi. Kita belajar mengelompokkan obyek-obyek yang diamati (taxonomi). Setelah itu, berdasar pengenalan taxonomis, persamaan dan perbedaan, kita mulai pandai memperbandingkan, kita mulai tahun ini mata, ini batu, ini air dst. Secara pelan dan pasti, pengetahuan kita meningkat menjadi perbandingan. Kambing lebih besar dari  kucing, kucing lebih besar dari burung, dsb. Pengetahuan tingkat tiga ini (perbandingan) sangat bermanfaat bagi kehidupan. Semula kita hanya tahu tentang perbandingan benda-benda konkret, tetapi sejalan dengan perkembangan akal, kita mampu juga mengenal perbandingan sesuatu yang abstrak, antara kebaikan dan keburukan, antara adil dan zalim, antara petunjuk dan kesesatan, antara yang lebih aula dan yang khilaful awla, antara yang tidak patut dan muru`ah. Begitulah seterusnya. Ilmu berfungsi untuk menjelaskan, meramal (memprediksi), dan mengontrol gejala-gejala alam, baik yang bersifat fisik maupun dalam dunia sosial.

Pada tingkat selanjutnya, sistem pengetahuan kita mencapai tingkat kuantitatif. Dalam satu mazhab, pengetahuan kuantitatif lebih simpel dan mudah dikomunikasikan ketimbang pengetahuan kualitatif. Tentu tidak berarti kita mengucilkan komunikasi keilmuan dengan sistem bahasa yang bersifat estetik. Pengetahuan kualitatif yang bersifat semantik sering memunculkan kekacauan, padahal komunikasi keilmuan haruslah dilakukan secara antiseptis, tanpa terlibat emosi yang bersifat subyektif. Komunikasi keilmuan adalah proses reproduktif dan bukan proses kreatif.

Sistem pengetahuan yang teruji kebenarannya berdasar metode ilmu, itulah yang disebut ilmu. Perangkat yang diperlukan dalam upaya menemukan ilmu itulah yang disebut  penelitian, research.

Penelitian Untuk Mengembangkan Ilmu

“Menuntut Ilmu” adalah kata yang sangat lama kita dengar. Sejak kita masih sangat kanak-kanak , orang tua dan orang-orang di sekitar kita sering berujar “kau harus menuntut ilmu, agar kau  pandai dan tidak hidup seperti kami; dengan iImu, kau akan lebih baik”. Dalam khotbah dan ceramah, para da’i juga sering mengumandangkan “menuntut ilmu itu  wajib hukumnya bagi muslim laki-laki dan perempuan” “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”, tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad”. Mereka juga sering menegaskan bahwa Sayyidina Ali, sepupu Nabi dan sekaligus sebagai menantu Rasulullah, menegaskan ada sepuluh keutamaan ilmu dari harta yang salah satunya adalah, bahwa ilmu kalau dibelenjakan (diajarkan) akan bertambah, sedang harta bila dibelanjakan akan berkurang. Ilmu adalah pengetahuan yang teruji benar.

Jujun Suria Sumantri sedikit mengoreksi istilah “ilmu pengetahuan” yang terlanjur dipakai dalam bahasa sehari-hari kita. Beliau mengatakan bahwa ilmu bukanlah semata-mata pengetahuan; ilmu adalah pengetahuan yang teruji kebenarannya berdasar prosedur ilmiah. Menurutnya istilah yang tepat adalah “pengetahuan ilmiah”, karena tidak  semua pengetahuan itu berarti ilmiah. Pengetahuan adalah pengalaman sedang ilmu adalah hasil pengujian terhadap suatu fakta atau hasil dari suatu logika. Penjelasan Jujun ini mengingatkan kita bahwa tidaklah mudah menghasilkan ilmu, perlu perjuangan. Oleh karena itu, dalam ilmu keislaman perjuangan menemukan ilmu itu disebut dengan “ijtihad” yakni kerja intelektual (bazlul juhdi) dengan berfikir deduktif normatife, induktif empiris, dan atau paduan antara keduanya. Ilmu adalah hasil kerja prusedur ilmiah.  Prosedur ilmiah itulah yang diuraikan dalam apa yang disebut metodologi penelitian.

Kerja penelitian pada prinsipnya mempunyai pretense memburu kebenaran ilmiah yang diyakini terdapat pada setiap gejala dan peristiwa. Secara operasional, kerja penelitian mempunyai tujuan membentuk, mengembangkan, atau sekurang-kuangnya meng-update  ilmu pengetahuan.  Dengan tujuan penelitian yang demikian, maka mata rantai ilmu menjadi tidak putus lantaran terus diperbaharui sesuai konteks kebutuhan masyarakat yang mempunyai watak berubah. Pada sisi lain, melalui kelahiran ilmu yang tidak mandeg, berbagai sisi kehidupan manusia akan semakin mudah.

Dalam pengembangannya, ilmu pengetahuan sendiri mempunyai tiga unsur penting yang satu sama lain mempunyai hubungan saling mengikat, yakni substansi, informasi, dan metodologi. Dengan demikian, struktur metodologi sesungguhnya mengikuti struktur ilmu pengetahuan tersebut.

Substansi adalah sebagai unsur pertama ilmu dalam kerja penelitian sering disebut sebagai masalah penelitian. Penentuan masalah penelitian ini diawali oleh terjadinya problem akademis yang melatari mengapa sebuah peneltian layak dilakukan. Dari kegelisahan akademis yang dituangkan dalam latar belakang masalah yang berisi gap  antara das sollen dan das sein mengalir dan mengerucut menjadi fokus penelitian untuk kemudian dirumuskan masalah penelitian. Setelah itu, ditegaskan pula tujuan peneltian agar tidak lepas dari orbitnya. Signifikansi penelitian juga harus ditegaskan untuk meyakinkan bahwa penelitian itu benar-benar diperlukan, baik untuk kepentingan akademis (pure research) atau klinis (applied research).

Unsur informasi yang sering disebut dengan kerangka berpikir merupakan framework yang menjadi arah berpikir peneliti dalam sebuah penelitian. Kerangka berpikir diramu dari hasil belanja teori di sejumlah pasar ilmu. Karena itu, dalam kerja penelitian, selain perlu ditampilkan dasar-dasar teori, juga harus dideskripsikan hasil-hasil penelitian terdahulu. Dengan demikian ada guideline peneliti dalam menganalisis data-data penelitian.

Adapun metodologi sebagai unsur ketiga ilmu pengetahuan tidak lain dari “rangkaian kerja penelitian” atau presedur penelitian. Jadi, metodologi adalah kumpulan metode yang digunakan sejak penelitian pendahuluan hingga menarik kesimpulan. Rangkaian kerja penelitian disesuaikan dengan karakteristik unsur substansi yang digali. Oleh karena itu, ditemukan banyak ragam metodologi sejak yang paling abstrak hingga yang aplikatif dengan sejumlah paradigmanya. Ada yang membelah jenis penelitian menjadi dua, alamiah dan ilmiah; ada yang membelahnya menjadi fenomenologi-naturalistik dan positivistik, serta ada pula yang membelahnya menjadi kualitatif dan kuantitatif. Dua jenis penelitian terakhir lebih populer dan akrab dalam kerja penelitian di perguruan tinggi.  Jenis dan ragam penelitian ini pada intinya menyesuaikan dengan  karakteristik data yang digali dan dihimpun sehingga dapat kebenaran ilmiah.

Kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran mutlak yang hanya dimiliki Tuhan. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang mengacu kepada proses. Artinya selama proses pencarian kebnaran itu megikuti prosedur berpikir ilmiah, maka produknya dianggap benar secara ilmiah. Dengan demikian, kebenaran ilmiah bersifat nisbi sehingga harus terus dikembangkan dan diuji dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda.

Bangunan Ilmu

Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ilmu akan menjawab tiga pertanyaan mendasar, yaitu apa yang ingin diketahui (ontologi), bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi), dan apa nilai kegunaannya bagi kita (aksiologi).

a. Ontologi

Ontologi ilmu pengetahuan adalah pengalaman manusia yang bersifat empiris atau fakta empiris. Pengalaman itu menunjukkan sesuatu yang telah dialami dan berada dalam jangkauan kesempatan untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain.  Fakta empiris adalah fakta yang dapat dialami  langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan yang dikembangkannya sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris.

Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris ini pada dasarnya merupakan anstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini diperlukan karena kejadian alam yang sesungguhnya begitu kompleks. Ilmu tidak bermaksud memotret atau mereproduksikan  suatu kejadian tertentu dan mengabstraksikannya dlam bahasa keilmuan.  Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakikat obyek untuk mendapatkan saru, berupa pengetahuan mengenai obyek tersebut.

Asumsi (andaian ) diperlukan dalam penelitian. Pernyataan asumtif memberi arah dan landasan bagi kegiatan keilmuan/penelitian.

Ada tiga asumsi dalam keilmuan. Pertama, obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain. Oleh karena itu, dalam keilmuan dikenal klasifikasi dan perbandingan. Asumsi kedua adalah bahwa suatu fakta tidak mengalami perubahan dalam waktu tertentu, meski tidak akan perah ada kelertarian yang absolut. Oleh sebab itu, ilmu hanya menuntut  adanya kelestarian yg relative, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak akan berubah  dalam jangka waktu tertentu. Asumsi ketiga adalah determinisme, yakni bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan-urutan kejadian yang sama. Namun demikian, ilmu tidak menuntut adanya hubungan sebab akibat yang mutlak sehingga suatu kejadian terentu harus selalu diikuti oleh suatu kejadian yang lain. Ilmu tidak mengemukakan bahwa X selalu mengakibatkan Y, melainkan mengatakan bahwa X mempunyai kemungkinan (peluang) yang besar untuk mengakibatkan terjadinya Y.

Konsep ontologi sebagai bagian dari bangunan keilmuan juga terjadi dalam kaitan dengan ilmu kesyariahan. Ilmu kesyariahan bukan berpretensi menjelaskan benar dan tidaknya ajaran Islam, tetapi mengembangkan ilmu berdasarkan gejala empiriknya. Obyek penelitian kesyariahan tidak menyentuh soal sumber normati syariah, tetapi berada pada wilayah penafsiran, pemahaman, dan sikap terhadap ajaran syariah. Dari hasil penelitian dengan obyek kesyariahan akan menghasilkan teori-teori (ilmu) kesyariahan untuk dapat mengembangkan ilmu kesyariahan.

b. Epistemologi 

Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan dengan buah pemikiran lainnya. Jadi ilmu tu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah, dibedakan antara science  dan knowledge. Dengan demikian, ilmu itu lebih bersifat kegiatan/proses daripada sekedar produk. Kebenaran ilmiah bertumpu pada kebenaran proses menemukannya. Sepanjang prosedur yang dilewati sesuai dengan metode ilmiah, maka kebenaran ilmiah sudah tercapai.

Sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam mencari pengetahuan yang benar dapat dituturkan dalam tiga fase. Pertama dengan cara berpikir rasional. Berdasar faham ini, idea tetnang kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia dapat mengetahui idea tersebut, namun tidak menciptakannya dan tidak pula mempelajarinya lewat pengalaman. Manusia dapat menemukan kebenaran melalui kegiatan berpikir terlepas dari pengalaman manusia. Namun dari manakah kita mendapatkan kebenaran yang sudah pasti bila kebenaran itu tercerai dari pengalaman  manusia yang nyata. Disinilah kesulitan aliran rasionalisme.

Dalam fase berikutnya muncullah cara menemukan pengetahuan yang benar itu melalui fakta. Tidak puas dengan perdebatan rasio, kaum ini (empirisme) menyarankan untuk kembali ke alam dalam rangka menemukan pengetahuan. Menurut aliran ini, pengetahuan itu tidak ada secara apriori dalam benak kita, tetapi ada dalam pengalaman/fakta alamiah.  Apakah metode empiris menghasilkan pengetahuan yang benar? Ternyata juga menyisakan keraguan. Setiap fakta empiris dalam pengelaman kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran kepada mereka.  Fakta  yang ada sebagai dirinya sendiri tidaklah mampu berkata apa-apa. Kitalah yang memberi mereka nama, memberi arti, memberi ruang dan tempat atau apa saja. Kumpulan pengetahuan yang diperoleh akhirnya hanya merupakan serbaneka  yang tak berarti. Darwin mengatakan bahwa “tanpa penafsiran yang sungguh-sungguh, maka alam akan mendustai kita bila dia mampu”. Jadi, empirisme juga gagal untuk dapat menemukan  pengetahuan yang benar.

Muncullah usaha untuk menggabungkan antara rasionalisme dan empirisme, dan itulah metode keilmuan. Rasionalisme memberikan dasar pemikiran yang koheren dan logis, empirisme memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.

 Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah ada perbedaan metode keilmuan yang dipergunakan antara obyek ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Bila ditelaah secara seksama, tidak ada alas an untuk membedakan metode keilmuan pada obyek yang berbeda. Yang terjadi adalah  pengembangan teknik-teknik yang berbeda sesuai dengan bidang yang dihadapinya, namun teknik-teknik tersebut diperkembangkan dalam rangka melaksanakan  metode keilmuan yang sama.

c. Induksi dan Deduksi 

Tujuan utama kegiatan keilmuan adalah mencari pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk teori, hukum, kaidah, asas, dan sebagainya. Pengetahuan yang bersifat umum itu sangat berguna untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol gejala-gejala alam, baik dalam dunia fisika mauun sosial.  Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kita mendapatkan suatu kesimpulan yang bersifat umum yang dapat diandalkan? Disinilah kita harus mengetahui dua model berpikir (analisis): induktif dan deduktif.

Induksi adalah suatu cara pengambilan keputusan dimana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus individual. Dalam konteks ini, masuklah statistika sebagai teknik untuk menarik kesimpulan umum yang dapat diandalkan. Statistika mempunyai peranan penting dalam asumsi keilmuan mengenai hubungan sebab akibat. Seprti diketahui, ilmu tidak  menyatakan bahwa suatu kejadian selalu akan mengakibatkan kejadian yang lain, melainkan hanya menyatakan  peluang untuk terjadinya kejadian tersebut. Statistika akan membantu besarnya peluang hubungan sebab akibat tersebut.

Deduksi adalah suatu cara menarik kesimpulan individual dari pernyataan yang bersifat umum. Deduksi adalah penarikan kesimpulan  partikular dari pernyataan yang kebenarannya telah diketahui. Dalam proses deduksi, logika memegang peranan yang penting. Dalam logika dikenal premis-premis yang kebenarannya telah diakui. Misalnya semua burung bias terbang, Kutilang adalah burung, maka Kutilang bias terbang. Dalam deduksi, matematika mempunyai peranan penting. Matematika sebenarnya adalah penyederhanaan dari logika.

Dalam usahanya untuk mendapatkan pengetahuan yang makin dapat diandalkan, ilmu menyuguhkan konsep pengukuran. Adanya konsep pengukuran ini memungkinkan untuk mengetahui hubnungan logis antara faktor-faktor yang terlibat dalam suatu gejala atau peristiwa dengan lebih seksama. Konsep pengukuran itu dalam perkembangannya berada dalam tiga tahap: klasifikasi, perbandingan, dan kuantifikasi. Ilmu-ilmu sosial, karena sifatnya yang emik, pengukurannya masih didominasi oleh pernyataan kualitatif perbandingan.

d. Aksiologi 

Untuk apa ilmu ditemukan? Inilah pertanyaan yang harus dijawab pada bagian ini. Einstein, seperti dikutip Jujun S, mengeluh dihadapan mahasiswanya “Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian, dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu … Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah,  hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”.

Ilmu pada dasarnya netral, dia hanyalah alat bukan tujuan, dia akan tergantung kepada pemakainya. Sebagai umat Islam, kita mesti kembali kepada firman Tuhan “Allah mengangkat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat” (al-Mujadilah/58: 11). Ayat ini sangat jelas bahwa ilmu mesti berada dalam bungkus iman. Dalam pangkuan iman, ilmu akan bernilai manfaat bagi kehidupan semesta alam. Dengan ilmu yang dibungkus iman, manusia akan benar-benar dapat menunaikan amanahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Semoga.

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
Kegelisahan Mahasiswa Semester Akhir
Diposting pada lembaga pers tanggal 29 November 2016 pukul 8:30 am

catatan mahasiswa oleh: Muhammad IqbalAkhir-akhir ini sering terdengar keresahan atau polemik dari mahasiswa dipucuk semester (red: yang merasa). Saya sendiri sudah semester 5, artinya sudah dua …

LPS AL-Waqar : Lembaga Pengajaran Sederhana Al-Waqar
Diposting pada lembaga pers tanggal 29 November 2016 pukul 8:09 am

essai oleh: Rizali Norhadi Sabtu, 1 oktober 2016. Saya berjumpa dengan kawan-kawan komunitas belajar bernamakan LPS Al-Waqar. Mereka adalah generasi penghuni keresahan intelektual. Gagasan dan …

ANTOLOGI PUISI “MERATUS, HUTAN HUJAN TROPIS” DL 05 JANUARI 2017
Diposting pada lembaga pers tanggal 19 November 2016 pukul 10:41 am

ANTOLOGI PUISI “MERATUS, HUTAN HUJAN TROPIS”Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan Tahun 2017Kawasan Hutan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang masih tersisa di Propinsi …

To Top