Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Cendekiawan dan Kurban
Filed Under: Rilis Berita Kamis, 2 Oktober 2014 pukul 19:34 WITA — Dilihat 592 kali
Bagikan Tulisan Ini
Ulama

Oleh: Prof Dr H Kamrani Buseri MA

Guru Besar pada IAIN Antasari Banjarmasin

Dalam kehidupan sosial berkembang istilah kelompok intelektual dan kelompok cendekiawan. Kelompok intelektual lazim terdiri atas orang-orang yang diberi Allah kelebihan dari segi kemampuan berpikir dan menganalisis, sehingga seringkali dengan mudah mereka mencapai kesarjanaan. Sementara kelompok cendekiawan adalah mereka yang diberikan kelebihan oleh Allah dalam kecerdasan emosional, sehingga menjadi manusia-manusia yang memiliki sikap empati terhadap berbagai apa yang menimpa masyarakat lingkungannya.

Di sisi lain, kita ingat dengan pandangan Az-Zarnuji bahwa banyak orang tidak sampai kepada hakikat ilmu (intelektual), karena ilmunya tidak mengantarkan dirinya kepada ma’rifatullah atau  mengenal Allah. Fenomena lain banyak pula orang kaya atau berpunya lupa kepada Allah.

“Sesungguhnya kami telah memberimu serba banyak, maka salatlah dan sembelihlah kurban” (QS Al-Kaustar: 1-2). Salat menegakkan hubungan seseorang dengan Tuhannya, sementara ibadah kurban menegakkan hubungan sesamanya. Salat mencetak kecerdasan spiritual sementara kurban mencetak kecerdasan emosional manusia. Kedua kecerdasan tersebut melahirkan cendekiawan muslim, yakni seseorang yang tumbuh dalam jiwanya semangat keprihatinan intelektual.

Cendekiawan tidak mesti sarjana. Sebab seorang sarjana belum tentu cendekia. Oleh karena itu Pak Habibi bersama teman-temannya beberapa tahun silam membentuk ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), bukan ikatan sarjana muslim Indonesia.

Keprihatinan intelektual terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia atau masyarakat merupakan bagian dari karakter yang selalu dikembangkan dalam pandangan Islam. Islam selalu memperhatikan hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan alam termasuk dengan binatang, tumbuhan dan manusia sendiri. Hubungan baik dengan Allah, dalam kaitan ini posisi dirinya sebagai hamba Allah semata, bukan hamba yang lain.

Seringkali kita menyaksikan sikap keprihatinan atau empati dilakukan seseorang saat menjelang kampanye pemilu, sejalan dengan dirinya ikut menjadi calon legislatif. Kondisi seperti itu bukanlah keprihatinan yang murni, tetapi keperihatinan yang sumbang, yakni tidak semata-mata karena Allah, tetapi karena yang lain, cenderung kepada transaksional atau sogok menyogok.

Penyembelihan hewan kurban merupakan media latihan agar seorang muslim betul-betul menjadi cendekiawan muslim dalam arti berbuat baik terhadap sesama. Lebih-lebih lagi terhadap kaum lemah, mutlak hanya semata-mata keluar dari lubuk terdalam seseorang, yang menyadari bahwa nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya sangatlah banyak. Dari kesehatan, keselamatan, kedamaian, ketenteraman, terhindar dari malapetaka dan bencana.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Hajj: 37).

Melaksanakan ibadah kurban sebagai bukti kecintaan kepada fakir miskin dan tumbuhnya keprihatinan terhadap nasib mereka. Sebab dua pertiga dari hewan yang disembelih itu adalah haknya fakir miskin. Dalam konteks pembagian daging qurban itu seyogianya diikutsertakan para pemuda. Ini, sebagai pembelajaran bagaimana mereka membagikan daging tersebut kepada fakir miskin.

Generasi muda sekarang secara intelektual sudah sangat berkembang, namun dari segi kecendekiawanan masih dipertanyakan. Gerakan-gerakan menumbuhkan sikap cendekiawan ini perlu diperhatikan dengan menyusun program yang tepat, misalnya membawa murid-murid SD/Ibtidaiyah berkunjung ke panti-panti asuhan yatim atau orang jompo. Bisa pula memanfaatkan situasi tertentu, misalnya saat ada musibah kebakaran, kebanjiran, dan lainnya. Mereka bisa digerakkan untuk berpartisipasi mengumpulkan sumbangan, baik uang maupun pakaian layak pakai, dan sebagainya.

Sikap kecendekiawanan di kalangan masyarakat atau khususnya di kalangan generasi muda perlu dipupuk. Pelatihan untuk senang berbuat kebajikan dimulai dan ditanamkan sejak dini, dengan memanfaatkan momen tertentu seperti Ramadan. Karena, di bulan pernah berkah itu segala sesuatu insya Allah akan mendatangkan hasil yang optimal atau berkah. Dan, siapa yang terbiasa dengan kebajikan maka akan dimudahkan oleh Allah terhadap kebajikan-kebajikan tersebut.

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (merasa dirinya tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya), serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (QS Al-Lail: 5-10).

Firman Allah itu menggambarkan bahwa siapa pun yang senang berbuat kebajikan dengan menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, seperti membantu biaya pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu, membantu fakir miskin untuk mengatasi kesulitan hidupnya, atau membantu orang-orang yang ditimpa musibah, maka Allah akan memudahkan jalan untuk berbuat kebajikan itu. Orang seperti ini akan selalu memperoleh jalan kemudahan seperti selalu dimudahkan rezekinya, sehingga mudah pula mendermakan hartanya di jalan-jalan kebajikan dimaksud.

Sebaliknya, bagi mereka yang merasa berat dalam berinfak di jalan Allah, mereka kikir dan merasa hebat sendiri karena kekayaan yang dipunyai, maka akan ditumbuhkan perasaan enggan untuk berbuat kebajikan tersebut, nauzu billah.

Ibadah kurban dengan menyembelih binatang ternak (kambing, sapi, kerbau atau unta) merupakan perlambang mematikan nafsu kebinatangan yang bersarang di dalam tubuh manusia, terutama mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS Al-Fajr: 20). Binatang tidak mengerti apa makna harta yang diberikan oleh Allah kepadanya, apa itu rezeki? Terkadang manusia dengan nafsunya menimbun harta sebanyak-banyaknya seperti dimasukkan di bank. Tetapi, dia lupa bahwa yang disebut rezeki adalah apa yang dimakan, dipakai dan apa yang dibelanjakan di jalan Allah yakni disimpan untuk akhirat, bukan disimpan sebagai tabungan di bank tanpa dibelanjakan sebagiannya untuk akhirat.

Nafsu kebinatangan yang muncul dalam sifat serakah dan egoisme menjadikan dia tidak kenal lagi makna persahabatan, persaudaraan, kekerabatan atau makna bertetangga. Yang muncul, justru sikap individualistik, merasa mampu atau merasa kaya seolah-olah hidup ini tidak membutuhkan orang lain.

Kesadaran akan makna kurban yang sesungguhnya harus hidup dalam sanubari setiap muslim. Berkurban bukan karena turut-turutan, pamer atau gengsi, tetapi betul-betul muncul dari sifat dasar kemanusiaan, sejalan dengan tuntunan Allah. Semoga ibadah kurban menjadi pembuka jalan agar kita menjadi cendekiawan muslim, bukan sekadar intelektual. Aamiin. (Banjarmasin Post).

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top