Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Budaya Belajar sebagai Budaya Akademik PT Unggul
Filed Under: Opini Antasari Senin, 24 Februari 2014 pukul 02:22 WITA — Dilihat 833 kali
Bagikan Tulisan Ini
Syaifuddin_Sabda

Oleh: Prof. Dr. H. Syaifuddin Sabda, M.Ag.

PENTINGNYA MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR SEBAGAI UNSUR UTAMA BUDAYA AKADEMIK PERGURUAN TINGGI YANG UNGGUL

Visi IAIN Antasari yang telah ditetapkan berbunyi “Menjadi pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman multidisipliner yang unggul dan kompetetif”. Untuk mewujudkan visi IAIN Antasari sebagai perguruan tingggi yang unggul dan kompetetif tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sekretaris Kementerin Agama RI dalam pengarahannya pada Rapat Kerja IAN Antasari menyampaikan ada lima aspek/bidang transformasi yang harus dilakukan untuk menunju perguruan tinggi yang unggul, yang salah satunya ialah perlunya transformasi budaya akademik (academic cultural transformation), di samping transformasi lainnya, yaitu: transformasi di bidang akademik (academic transformation); transformasi sumber daya manusia (human transformation); dan transformasi bidang sarana dan prasarana penunjang (Infrastrukctur transformation).

Pada perguruan tinggi, budaya akademik tercermin pada tiga pilar tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.  Ketiga pilar tri dharma perguruan tinggi tersebut memiliki karakteristik budaya yang khas pada masing-masing perguruan tinggi, yang bisa saja tidak sama satu sama lain.  Tentu ada yang budaya akademiknya baik dan kondusif bagi pencapaian kualitas ada yang biasa-biasa-biasa saja atau bahkan yang buruk sekalipun. Hal itu tentu  sekaligus menjadi barometer kemajuan dan keunggulan perguruan tinggi masing-masing. Oleh karena itulah, perhatian serius terhadap terbangunnya budaya akademik yang baik dan kondusif bagi peningkatan kualitas perguruan tinggi, merupakan sebuah keniscayaan.

Budaya akademik pertama yang harus diperhatikan adalah budaya atau iklim pendidikan dan pengajaran atau ‘mengajar-belajar’, dan terutama ‘belajar’. Budaya ini menjadi satu hal yang amat penting dan strategis atau menjadi inti sari dalam tatatan budaya akademik setiap perguruan tinggi. Oleh karena itu, pengembangan aspek budaya akademik ini menjadi sesuatu yang amat strategis dalam upaya peningkatan mutu dan keunggulan setiap perguruan tinggi.

Proses pembelajaran yang secara tradisionil menekankan kepada ‘mengajar’ harus dilakukan perubahan orientasi kepada ‘belajar”. Dengan demikian, selain kemampuan praktis para pelaksana dan pengelola pendidikan diperlukan pula situasi yang kondusif bagi terjadinya proses tersebut. Dengan kata lain diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menciptakan perguruan tinggi menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar dan bekerja. Untuk itulah diperlukan upaya membangun budaya akademik dan menumbuhkan sikap inovatif serta belajar terus menerus dari setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar di perguruan tinggi. Budaya itu di perguruan tinggi dikenal dengan istilah “budaya akademik” perguruan tinggi.  Budaya akademik jika dimantapkan pelaksanaannya dengan baik akan berdampak terhadap lahirnya lulusan yang berkualitas yang memiliki kemampuan belajar terus menerus (belajar sepanjang hayat).

Pandangan tersebut menjadi signifikan dengan mengutip pernyataan Jacques Hallak (1999) yang menyatakan betapa pentingnya belajar dalam era milenium ketiga dengan mengatakan bahwa: “In so far as I am concerned, as we are about to enter the year 2000,1 would like to express the hope that the societies of the 21st century will gradually become learning societies. This is not wishful thinking.” Untuk mengimbangi kenderungan itu maka mau tidak mau perguruan tinggi harus mengubah strateginya kearah belajar atau terjadinya belajar agar perguruan tinggi melalui pemantapan budaya akademik akan melahirkan organisasi yang belajar (learning organization).

Dalam konteks pemantapan budaya akademik di bidang pendidikan dan pengajaran Komisi Pendidikan International untuk abad XXI menyampaikan laporannya kepada UNESCO menetapkan betapa pentingnya membangun kebersamaan masa depan di mana belajar sepanjang hayat merupakan denyut jantung masyarakat dan sebagai kunci memasuki abad ke XXI, sekaligus mengemukakan empat pilar pendidikan dengan menekankan pada salah satu pilar pendidikan yang diajukan dan digambarkan sebagai dasar-dasar dari pendidikan “the foundations of education” (Delors,1996;22).

Empat pilar pendidikan dimaksud ialah: Pertama, learning to know, yang merupakan “the passport to life long education” yang juga sekaligus menjadi dasar untuk belajar sepanjang hayat (learning throughout life).; Kedua, learning to do a job of work yang secara umum menuntut penguasaan kompetensi yang memungkinkan seseorang untuk dapat hidup dalam berbabagai keadaan yang kadang sulit untuk diduga sebelumnya; Ketiga, learning to be seperti yang pernah dilaporkan oleh Edgar Faure dalam Lerning to Be : The World of Education Today and Tomorrow yang diterbitkan oleh UNESCO tahun 1972, yang rekomendasinya masih tetap relevan untuk abad ke XXI di mana setiap orang membutuhkan untuk “…exercise greater interdependence and judgement combined with a stongger sense of personal responsibility for the attainment of common goal” (Delors,1996;23); dan Keempat, learning to live together, yaitu: by developing an understanding of others and their history, traditions and spiritual values and on this basis creating a new spirit which, guided by recognition of our growing interdependence an a common analysis of the risk and challenges of the future, would induce people to implement common projects or to manage the inevitable conflicts in an intelligent and peaceful way.”

Mungkin pandangan di atas bisa dianggap sebagai sesuatu mimpi yang terlalu muluk atau bahkan sebuah utopia bagi sebuah perguruan tinggi. Akan tetapi, tak dapat dimungkiri ia adalah sesuatu hal yang perlu, karena keempat pilar pendidikan yang ditawarkan UNESCO tersebut kepada dunia itulah yang memastikan peran pendidikan ke depan. Oleh karena itu ia perlu ditumbuhkan melalui budaya akademik pergruan tinggi baik melalui indidividu, kelompok dan lembaga yang terlibat dalam pendidikan tersebut.

Untuk membangunkan kita dari tidur yang panjang, Rose dan Nicholl (1997, h.4) mengatakan bahwa:

“Knowledge is doubling every two to three years in almost every occupation – and these means your knowledge must double every two to three years just for you to stay even. People who are not aggressively and continuosly upgrading their knowledge and skills are not staying in the same place. You need to ask yourself where you are going to be … what skills do you have? What do you need to be exellent at? Are you prepare to deal with accelerating change? “Change after all is only another word of growth, another synonim of learning. We can all do it and enjoy it, if we want to,” … But change need to be valued unless your job involves continuous learning (to handle change) taking inisiative, making judgement, making good, rational decisions, and inventing creative solutions to problems….”

Pandangan dan pendapat Rose dan Nicholl tersebut mengingatkan bahwa untuk tetap dapat mengikuti perubahan yang terjadi, pada prinsipnya menuntut setiap individu untuk senantiasa belajar guna menambah pengetahuan dan ketenampilannya yang senantiasa berubah dengan cepat. Hal itu hanya mungkin direspon dengan belajar dan belajar baik melalui pendidikan formal maupun latihan. Untuk itu kiranya tepat apa yang disampaikan oleh Daniel Burns seorang futurist lainnya yang menulis tentang Techno Trends – 24 Technologies That Will Revolutionize Our Lives bahwa “The future belongs to those who are capable of being retrained again and again “.

Guna menunjukkan betapa pentingnya belajar dalam menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat Bill Gates seorang penemu Microsoft Corporation dalam bukunya yang berjudul The Road Ahead seperti yang dikemukakan oleh Rose dan Nicholl (1997, h.5) menyatakan:

“In a changing world, education is the best preparation for being able to adapt. As the economy shifts, people and societies who are appropriately educated will tend to do the best. The premium that society pays for skills is going to climb, so advise is to get a good formal education and then keep on learning. Acquire new interests and skills throughout your life.”

Pandangan Bill Gates yang memiliki latar belakang teknologi komputer itu ternyata menempatkan pendidikan sebagai: “best preparation for being able to adapt” dan tentu tidak berhenti sampai di situ sebab baginya “a good formal education” tersebut harus didukung dengan tetap belajar.

Kesemua hal yang dikemukakan itu pada dasarnya menuntut bagaimana seseorang mempersiapkan diri atau dipersiapkan oleh lembaga pendidikannya agar dapat tetap mengikuti tuntutan-tuntutan perubahan yang cepat yang selain tidak dapat diduga, dampaknya akan sangat dahsyat jika tidak dilakukan persiapan-persiapan dalam menghadapinya lewat pendidikan dan belajar. Itulah barangkali sebabnya, kenapa Allah SWT memberikan perintah pertama kepada umat Islam melalui Rasul perintah untuk membaca (iqra`) dalam arti yang sangat luas dan dalam agar umat Islam secara cepat mencapai kemajuan dan keunggulannya.

Di atas telah dikemukakan bahwa perguruan tinggi harus berupaya dengan sebaik-baiknya agar siap merespons perkembangan dan perubahan masyarakat yang cepat guna menyiapkan masyarakat belajar melalui pemantapan budaya akademik perguruan tinggi itu sendiri sehingga akan lahir suatu organisasi yang juga belajar. Perguruan tinggi yang belajar dengan sendirinya akan didukung oleh para pendukungnya yang senantiasa juga dituntut untuk belajar terus menerus. Para pendukung yang senantiasa belajar terus menerus hanya dapat diwujudkan dengan memantapkan budaya akademik yang memang merupakan ciri khas perguruan tinggi yang berkembang, tanpa itu maka perguruan tinggi tersebut hanya akan menjadi pengawet ilmu pengetahuan dan bukannya mengembangkan ilmu pengetahuan yang manfaatnya amat dibutuhkan oleh masyarakat.

Hal itu akan terwujud jika pendukung organisasi perguruan tinggi (utamanya pimpinan, dosen, mahasiawa, dan juga karyawan) tidak hanya sebagai `konsumen, ilmu pengetahuan, tetapi justru menjadi ‘pengembang dan penghasil’ ilmu pengetahuan melalui sinergi antar kekuatan-kekuatan yang ada di dalam lembaga perguruan tinggi sendiri dengan kekuatan-kekuatan pengembang lain yang ada di perguruan tinggi lainnya atau yang ada di masyarakat. Perguruan tinggi tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan pada kekuatan/aset yang dimiliki tanpa melakukan kerjasama dengan sesama perguruan tinggi dalam mewujudkan perguruan tinggi sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan masyarakat.

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
SADZALI GERAM PARKIRAN USHULUDDIN DIPENUHI MAHASISWA SYARIAH
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:35 am

                 foto: Yunita SariBSukma- Parkir kendaraan kembali menuai protes, kali ini datang dari Fakultas …

Pemimpin vs Pemimpin Realitas Pemimpin dalam Program PKMD
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 11:20 am

penulis: Moh Husni Dalam pewayangan Sindhunata pernah berkata, rakyat adalah digdaya tanpa aji. Maksudnya rakyat memiliki kekuatan namun tanpa harga diri dan nilai. Karena itu pemimpin adalah …

Lukisan Kehidupan
Diposting pada lembaga pers tanggal 5 Desember 2016 pukul 8:53 am

Sumber GoogleKarya: Siti Bulqis RadinahHidup bagai roda yang berputarKadang di atas kadang di bawahDan balik ke atas balik ke bawahBegitulah retak kehidupanJatuh bangun bukan bermakna kita kalahDan …

To Top