Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2017
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Bagaimana Kita Beragama
Filed Under: Opini Antasari Kamis, 19 Januari 2017 pukul 08:44 WITA — Dilihat 822 kali
Bagikan Tulisan Ini
DR-Sukarni

Oleh: Dr. H. Sukarni, M.Ag.

Seratusan  peserta yang terdiri dari tokoh-tokoh lintas agama, LSM peduli dialog dan kerukunan, mahasiswa Prodi Perbandingan Agama dan civitas akademika Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari sangat bersemangat mengikuti dialog kerukunan  dalam tajuk   “Kesalehan Sosial Menurut Agama-Agama” yang dilaksanakan akhir November 2016 yang lalu. Hajatan besar dan penting ini sahibul baitnya  adalah panitia bersama:  Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Kalimantan Selatan dan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari. Sesuai temanya, nara sumber terdiri dari pemuka agama, Islam, Hindu, dan Katolik (DR. Sukarni, Banthe Saddhaviro Mahatera, dan Romo Antonius Bambang Doso Susanto).

Meski materi yang disampaikan selalu bermula dari nalar deduktif normatif yang terkesan melangit, namun dalam dialog yang digelar sekitar satu setengah jam, wilayah perbincangan sangat membumi, mendalam dan melebar ke wilayah semua lini tentang konsep, paradigma, dan penerapan kesalehan sosial yang sangat luas. Tentu  nara sumber berbicara dalam sisi teologis masing-masing, namun goalnya sama, ingin mamasukkan bola ke gawang strategi menghadapi tantangan realitas paradoks keberagamaan, masyarakat yang terbelah keperibadian, satu sisi taat dalam melaksanakan ajaran agama yang bersifat individual, tetapi pada saat yang sama tidak berempati  terhadap kehidupan sosial dan lingkungan alam. Tulisan ini menghadirkan beberapa caatan dalam acara dialog tersebut, khususnya dalam perspektif Islam.

Ritual sekaligus Sosial

Dalam presentasi dan dialog terungkap, akibat  pemisahan konsep antara ritual dan sosial menjadi penyebab keterbelahan personal umat beragama. Integritas menjadi hilang. Agama hanya di mesjid, wihara dan gereja. Terjadi semacam selebrasi agama, formalitas dan selfi. Cenderung kosong, hampa, tidak bermakna. Meski seribu masjid, bergelar kota santri, masyarakat religious, lampu asmaul husna berjejer menghias kota terang menyala, dan berbagai label serta atraksi keberagamaan sejenisnya, namun kerusakan tatanan moral sosial dan lingkungan hidup terus menampak dan menghias kehidupan nyata, dari kota hingga ke pelosok desa.

Dalam Islam ibadah ritual individual menjadi wasilah kesalehan sosial, menjadi penyebab amal sosial. Tengoklah ibadah yang paling dasar, thaharah. Pada surah al-Maidah ayat 6, Tuhan menegaskan bahwa ajaran bersuci bertujuan untuk kesucian dan kesempurnaan nikmat bagi kaum beriman. Kesucian batin sebagai puncak kebersihan lahir, seperti dalam konsep bersuci Imam Gazali, menjadi pondasi yang paling penting dalam membangun peradaban. Bukankah semua kreasi akal budi manusia berawal dari batinnya. Batin yang bersih akan memancarkan cahaya cemerlang peradaban, sebaliknya hati yang busuk, meski ditata dalam susunan yang sangat rapih, akhirnya hanya akan melahirkan aliran sungai-sungai keruh kehidupan. Masyarakat terbuai dan terpana sekaligus perlahan akan binasa akibat terminum kekeruhan tipu muslihat “mereka yang berkata manis namun berhati busuk”. Thaharah yang sangat pribadi seyogyanya membawa nikmat kehidupan sosial, berupa kebersihan batin manusia sebagai makhluk sosial yang akan membawa dampak peradaban spiritual, kehidupan yang didasari kesadaran bertuhan, yang dalam konteks Indonesia sebagai manusia Pancasilais.

Shalat, apalagi. Dalam surah al-Ankabut ayat 45, Allah menegaskan bahwa shalat menjadi perisai, menjadi proteks, menjadi tabir, menjadi penegur kecenderungan berbuat jahat. Meski itu sangat berat. Berat, karena tidaklah mudah menjadikan shalat sebagai perisai. Mesti shalat yang berkesadaran. Shalat yang siap dibawa ke wilayah publik. Shalat yang dapat dibawa kemanapun di bumi Allah. Tentu bukan ruku dan sujudnya yang diletakkan dipundak untuk diarak. Bukan zikir nyaringnya, bukan selfinya. Namun, substansinya, zikrullah, kesadaran bersama Allah. Itulah mengapa, al-Gazali tidak mengakui shalat yang lupa kepada Allah sebagai shalat yang sah. Lah, dalam shalat saja lupa kepada Allah, apalagi di luar shalat. Yang ingat Allah saja saat shalat bisa lupa kepada-Nya dalam gelimang gemerlap kehidupan dunia. Shalat harus fungsional. Harus membawa pengamalnya menjadi makhluk sosial yang menebarkan kebaikan dan steril dari sifat keburukan.  Itulah mengapa Rasul membilang shalat sebagai tiang agama. Dia harus ditegakkan, didirikan. Mungkin shalat kita selama ini masih tidak berdiri tegak. Itulah juga mengapa ada shalat-shalat sunnah yang dengannya keakraban kita kepada Rabbul alamin semakin terasa, karena mengerjakannya memerlukan kesadaran yang melebihi dari shalat fardu.

Puasa memiliki tujuan yang lebih mendalam, mengajari kita hidup sebagai makhluk spiritual (al-Baqarah ayat 183). Puasa mencegah kita makan dan minum serta berbagai kebutuhan biologis badani lainnya. Dengan puasa. kita belajar mengaktualkan hati, akal budi, ruh, dan segenap jiwa, tanpa terganggu dengan tuntutan badan. Kita adalah makhluk yang diberi pengalaman hidup material sebagai manusia. Sebagai manusia yang berkendaraan dengan badan, yang suatu ketika kendaraan ini akan sirna berkarat ditelan masa.

Akhirnya, kendaraan itu menjadi rongsokan besi tua, dan harus dikubur agar tidak memberi bahaya. Tetapi, spiritual kita akan terus hidup sebagaimana sebelum adanya badan, dia sudah eksis dalam alam roh. Kehidupan amat panjang. Dulu kita ada dalam ketiadaan badan, lalu dihidupkan dengan diberi badan, lalu Allah matikan untuk dibangkitkan lagi dan bersiap menghadap pengadilan Tuhan. Lihat surah al-a’raf ayat 172 dan al-Baqarah ayat 28. Sebagai makhluk spiritual, manusia bekerja dengan hati. Melihat persoalan dengan empati batin. Jumlah, angka, kuantitas, bukan segalanya untuk dasar bersikap. Ada suara kasih sayang, suara kalbu yang paling dalam, suara keberpihakan kepada semua sebagai makhluk Tuhan. Khalifah Allah, duta Allah untuk menebarkan rahmatan lil alamin. Itulah sebabnya, puasa bukan hanya bulan Ramadan. Rasul mulia memberi contoh puasa-puasa lain yang harus dikerjakan, sehingga unsur batin tampak menonjol dalam mendasari berbagai kebijakan sosial dan kemsayarakatan.

Berinfaq, berhadiah, berzakat, bersedekah, dan berwakaf adalah amal sosial yang sangat ditekankan dalam Islam. Sesuai kontesknya, masing-masing kerja filantropi tersebut bermakna kesalehan individu sekaligus sosial. Secara individu, kerja tersebut akan menghilangkan sikap tamak dan perasaan sebagai pemilik mutlak terhadap anugerah nikmat kehidupan. Sebagai iabadah sosial, praktek kedermawanan ini akan menyadarkan bahwa kehidupan ini sebagai milik bersama. Yang diberi banyak menjadi pintu suplay kepada yang kurang. Hidup disadarai sebagai anugerah Tuhan yang cukup untuk menopang semua makhluk-Nya. Sejatinya tidak ada yang kelaparan bila yang kaya tidak rakus. Tidak ada yang miskin bila yang berpunya dan berkuasa merasa memikul amanah untuk kesejahteraan sesama.

Haji dan umrah memberi pengalaman perjuangan manusia meneguhkan niyatnya untuk dekat kepada Tuhan, mendekap dan mendapat rahmat Tuhan. Tuhan tentu bukan di Ka’bah, bukan di Mekkah, bukan di Madinah. Tuhan dapat digapai dimanapun. Haji dan umrah adalah  napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim sekeluarga. Dengan haji dan umrah, orang akan sadar betapa untuk bertuhan memerlukan perjuangan. Berkeliling (thawaf), berjalan cepat dan berlari-lari kecil (sa’i), bermalam, (mabit), berhenti (wuquf), hingga melempar (jumrah). Dalam perjuangan itu, ada pantangan dan ada  rintangan dalam berbagai bentuk, termasuk  silang budaya (crossculture). Semua memerlukan kesabaran. Kesabaran itulah yang melekat dalam perjalanan spiritual haji. Kesabaran sebagai ketahanan, ketabahan, dan keyakinan bahwa Tuhan selalu bersmanya (orang-orang yang sabar). Itulah yang akan dibawa pulang ke tanah masing-masing, ke komunitas masing-masing, ke lingkup kerja masing-masing, ke medan pengabdian hidup masing-masing. Semua berujung untuk menebalkan lipatan kebajikan yang siap dibagi kepada seluruh makhluk Tuhan. Itulah mabrur yang secara harfiyah artinya “diberi kebaikan” sebagai hadiah kesabaran.

Pada akhirnya, ibadah ritual menjadi bersenyawa dengan ibadah sosial. Ibadah ritual yang tidak berdampak sosial sungguh tidak diperlukan Tuhan. Kita tinggal di alam yang satu, alam yang senyawa. Alam yang berbeda beda dalam sebutan, tetap sama dalam substansi, alam yang berbilang dalam partikel kimiawi, tetapi satu dalam essensi, selain Dia adalah makhluk ciptaan-Nya. Tersimpullah dalam dua, Dia dan ciptaan-Nya. Berbuat baik kepada siapapun, kepada makhluk Tuhan yang berjenis apapun, hingga seekor semut kecil hitam di kegelapan malam atau seekor anjing yang kehausan, pada akhirnya kebaikan itu akan kembali kepada si pembuat kebajikan. Begtiu juga sebaliknya. Al-Isra ayat 7.(*)

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
WANITA BERTASBIH
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 September 2017 pukul 2:51 pm

Wanita berjubah hitam di wajahnya, selalu membawa ibadah dan doa setiap langkahnya. Ada lelaki di dalam doanya, dan ibadah adalah nafas dari perjalanan setiap penantiannya.***Suatu ketika cuaca …

Dema Uin Antasari Gelar Aksi Peduli Rohingya
Diposting pada lembaga pers tanggal 7 September 2017 pukul 2:12 pm

DEMA UIN Antasari berhasil mengantongi uang sebesar  7.501.000 rupiah dari perolehan aksi yang diselenggarakan pada Kamis pagi, (07/09) di taman hijau (tajau) kampus.  Kegiatan bertajuk …

PERKENALAN UKM/UKK DI PBAK KURANG EFEKTIF
Diposting pada lembaga pers tanggal 30 Agustus 2017 pukul 1:22 pm

Tidak adanya jadwal rolling dalam perkenalan UKM/UKK di PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) tahun ini membuat beberapa UKM kecewa. Mereka yang kecewa menilai UKMnya kurang maksimal …

To Top