Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
“Artis” Kampus, Pengaruhi Karakter Mahasiswa
Filed Under: Opini Antasari Senin, 17 Maret 2014 pukul 00:08 WITA — Dilihat 1,319 kali
Bagikan Tulisan Ini
DR-Hidayat-Maruf

Oleh: Dr. Hidayat Ma’ruf, M.Pd
(Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Antasari)

Menurut EYD, kata yang ditulis di antara tanda petik bisa mempunyai makna yang khusus (mengandung makna lain, bukan bermakna yang sesungguhnya). “Artis” Kampus yang dimaksudkan dalam tulisan ini tidak bermakna seniman (artist) bintang film, pemain komedian, penyanyi, dan sejenisnya yang berada di kampus, tetapi seseorang yang dapat menjadi role model, seseorang yang sikap dan perilakunya menjadi contoh, panutan para mahasiswa, artis yang dimaksud di sini adalah dosen. Penulis memadankan kata artis dan dosen dikarenakan seorang dosen mempunyai pengaruh yang begitu besar terhadap mahasiswanya, termasuk dalam hal mempengaruhi sikap dan perilaku mahasiswa.

Meskipun akhir-akhir ini corak pendidikan lebih berorientasi kepada kompetensi siswa/mahasiswa (student oriented), namun kenyataan ini tidak mengurangi arti dan peran penting seorang guru/dosen dalam proses pendidikan. Malik Fadjar (2005) dalam bukunya yang berjudul “Holistika Pemikiran Pendidikan”, menegaskan bahwa guru/dosen menempati posisi sentral dalam mengejawantahkan dan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di negeri ini. Senada dengan pernyataan Malik Fadjar, dalam bahasa Arab, posisi sentral dan peran strategis seorang guru/dosen dinyatakan sebagai berikut: “al-Thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al-mudarris ahammu min al-thariqah”, maksudnya; metode pembelajaran lebih penting daripada materi belajar, tetapi keberadaan guru/dosen dalam proses pembelajaran jauh lebih penting daripada metode pembelajaran (Fathani, 2011).

Pendidikan karakter tidak akan berhasil kalau orang yang mendapat amanah untuk mendidik karakter bukanlah orang yang berkarakter. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari dosen yang berkarakter. Dosen sebagai pendidik bukan saja bertanggungjawab atas pemerolehan pengetahuan mahasiswanya, tetapi juga bertanggungjawab menanamkan karakter di hati dan perilaku mahasiswa. Kalau dosen mengajarkan sopan santun, kejujuran, dan nilai-nilai positif lainnya, maka dia harus terlebih dahulu dapat memberikan contoh dalam tingkahlaku nyata untuk berbuat sopan dan santun, jujur, dan mempraktekkan nilai-nilai positif lainnya. Cara dosen menyelesaikan masalah dengan adil, menghargai pendapat  dan mengkritik orang lain dengan santun, merupakan perilaku yang secara alami dijadikan model oleh para mahasiwa. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dari seorang dosen dalam menanamkan karakter pada para mahasiswa tanpa dia menjadikan dirinya sebagai model, teladan atau panutan.

Menurut teori belajar sosial (Social Learning Theory) sebagaimana yang dikemukakan oleh Bandura, perilaku manusia diperoleh melalui cara pengamatan terhadap model. Dari pengamatan tersebut, terbentuklah ide dan perilaku-perilaku baru yang digunakan sebagai arahan untuk bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Seseorang cenderung belajar dari contoh apa yang dikerjakan orang lain, atau setidaknya mendekati bentuk perilaku tersebut.

Sehubungan dengan peran yang sangat urgent dari seorang dosen sebagai model/teladan bagi para mahasiswa, menurut Nurchaili (2011), maka hal-hal yang harus dilakukan dosen diantaranya:

1) Meneladani Rasulullah Saw sebagai teladan seluruh alam

Sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

2) Memahami prinsip-prinsip keteladanan

Mulailah dengan prinsip ibda’ binafsik, yaitu dari diri sendiri. Dengan demikian dosen tidak hanya pandai  bicara dan mengkritik tanpa pernah menilai dirinya sendiri. Bercermin pada filosofi ”gayung mandi”, dalam mendidik karakter dosen jangan seperti gayung mandi. Gayung digunakan untuk mandi bertujuan membersihkan, tapi ia sendiri tidak pernah mandi atau membersihkan dirinya sendiri. Artinya dosen harus mempraktikkannya terlebih dahulu sebelum mengajarkan karakter kepada mahasiswanya.

3) Mengetahui tahapan pendidikan karakter

Karakter merupakan integritas dari pengetahuan tentang kebaikan, mau berbuat baik, dan dibuktikan dalam tindakan nyata berperilaku baik. Oleh karena itu, menurut Lickona (2004), pendidikan karakter dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan yaitu: Knowing the good (mengetahui kebaikan), desiring the good (mencintai kebaikan), dan doing the good (melakukan kebaikan).

Knowing the good, merupakan tahap memberikan pengetahuan tentang karakter. Pada tahapan ini dosen berusaha mengisi akal, rasio dan logika siswa sehingga siswa mampu membedakan karakter positif (baik) dengan karakter negatif (tidak baik). Siswa mampu memahami secara logis dan rasional pentingnya karakter positif dan bahaya yang ditimbulkan karakter negatif. Desiring the good, merupakan tahap mencintai dan membutuhkan karakter positif. Pada tahapan ini dosen berusaha menyentuh hati dan jiwa siswa bukan lagi akal, rasio dan logika. Diharapkan pada tahapan ini akan muncul kesadaran dari hati yang paling dalam akan pentingnya karakter positif, yang pada akhirnya akan melahirkan dorongan/keinginan yang kuat dari dalam diri untuk mempraktikkan karakter tersebut dalam kesehariannya. Doing the good, pada tahapan ini dorongan/keinginan yang kuat pada diri mahasiswa untuk mempraktikkan karakter positif diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan didasarkan atas kesadarannya, mahasiswa terdorong untuk berperilaku menjadi lebih santun, ramah, penyayang, rajin, jujur, dan semakin menyenangkan, menyejukkan siapapun yang melihat dan berinteraksi dengannya.

4) Mengetahui metode pendidikan karakter

Diantaranya adalah metode inculcation (inkulkasi/penanaman). Inkulkasi berbeda dengan indoktrinasi (indoctrination/pengisian) yang terkesan lebih memaksakan nilai-nilai yang diinginkan untuk diterima oleh orang lain. Karena dengan metode ini, mahasiswa dapat menerima pentingnya karakter baik dengan logikanya dan dirinya akan merasa lebih dihargai sebagai manusia. Zuchdi, dkk (2010) menyebutkan bahwa inkulkasi (penanaman) nilai memiliki ciri-ciri diantaranya sebagai berikut:

  • Mengkomunikasikan nilai-nilai kebaikan dengan disertai alasan.
  • Memperlakukan peserta didik dengan adil.
  • Menghargai pandangan atau pendapat, dan tetap menjalin komunikasi terhadap pendapat yang berbeda.
  • Membuat aturan, memberikan penghargaan, dan memberikan konsekuensi disertai alasan 

SUMBER RUJUKAN

Fadjar, A. Malik. 2005. Holistika Pemikiran Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Fathani, Abdul Halim. 2011. Guru Berkarakter dan Masa Depan Indonesia. http://suaraguru.wordpress.com/2011/11/29/guru-berkarakter-dan-masa-depan-indonesia/. Diakses pada tanggal 23 September 2012

Lickona, Thomas. 2004. Character Matters: How to Help Our Children Develop Good Judgment, Integrity, and Other Essential Virtues. New York Simon & Schusters, Inc.

Nurchaili. 2011. Keteladanan Guru dan Pendidikan Karakter. http://www. waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=196649:keteladanan-guru-dan-pendidikan-karakter&catid=25:artikel&Itemid=44. Diakses tanggal 23 September 2012

Zuchdi, Darmiyati, dkk. 2010. Pengembangan Model Pendidikan karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran Bidang Studi di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Th. XxiX . Edisi Khusus Dies Natalies UNY. Mei 2010.

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
Kegelisahan Mahasiswa Semester Akhir
Diposting pada lembaga pers tanggal 29 November 2016 pukul 8:30 am

catatan mahasiswa oleh: Muhammad IqbalAkhir-akhir ini sering terdengar keresahan atau polemik dari mahasiswa dipucuk semester (red: yang merasa). Saya sendiri sudah semester 5, artinya sudah dua …

LPS AL-Waqar : Lembaga Pengajaran Sederhana Al-Waqar
Diposting pada lembaga pers tanggal 29 November 2016 pukul 8:09 am

essai oleh: Rizali Norhadi Sabtu, 1 oktober 2016. Saya berjumpa dengan kawan-kawan komunitas belajar bernamakan LPS Al-Waqar. Mereka adalah generasi penghuni keresahan intelektual. Gagasan dan …

ANTOLOGI PUISI “MERATUS, HUTAN HUJAN TROPIS” DL 05 JANUARI 2017
Diposting pada lembaga pers tanggal 19 November 2016 pukul 10:41 am

ANTOLOGI PUISI “MERATUS, HUTAN HUJAN TROPIS”Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan Tahun 2017Kawasan Hutan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang masih tersisa di Propinsi …

To Top