Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Akhlak, “dari Kepala Turun ke Kaki”
Filed Under: Opini Antasari Minggu, 17 Mei 2015 pukul 23:55 WITA — Dilihat 1,899 kali
Bagikan Tulisan Ini
DR-Hidayat-Maruf

Oleh: Dr. Hidayat Ma’ruf, M. Pd

Akhlak tercermin dalam aktivitas, aktivitas dikendalikan oleh otak di kepala, dan aktivitas menjadi lincah jika ditopang oleh kaki. Begitulah rumus sederhananya, sehingga seluruh aktivitas, seharusnya bermula dari kepala baru kemudian turun ke kaki. Tidak seharusnya aktivitas langsung turun ke kaki tanpa bermula dari kepala. Rumusan “dari kepala turun ke kaki” senada dengan nasehat orang bijak: “Mengagalah lebih dahulu sebelum engkau berucap”.

Dalam pandangan psikologi-neurologi, setiap informasi yang didapat oleh indera (mata, telinga, hidung, dst.) setidaknya akan diteruskan dan diolah oleh 2 hal; 1) Prefrontal cortex/neo cortex (otak depan, berpikir logis) yang terletak di kepala bagian depan/dalam dahi, dan 2) Amygdala (otak binatang, otak primitif, otak emosional). Terhadap informasi yang didapat, prefrontal cortex akan mempertimbangkan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan, sementara itu, amygdala langsung memerintahkan anggota tubuh untuk bertindak tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Sayangnya, menurut para neurolog, umumnya “pipa” saluran informasi ke amygdala lebih besar daripada ke prefrontal cortex, sehingga informasi yang didapat oleh indera lebih cepat sampai ke amygdala ketimbang ke prefrontal cortex, dengan kata lain, kita cenderung untuk bertindak lebih dahulu baru berpikir kemudian.

Dalam kondisi tertentu, bertindak lebih dahulu adalah lebih baik daripada berpikir lebih dahulu, sebagai ilustrasi: “Di sebuah jalan yang gelap, tiba-tiba mata kita melihat di hadapan jalan ada benda yang melingkar dan berwarna hitam, informasi dari pandangan mata kita dalam sekejap sampai ke amygdala, secepat kilat pula amygdala memerintahkan kaki untuk melompat mundur ke belakang karena mengira benda tersebut adalah ular, walau akhirnya diketahui ternyata benda tersebut bukan ular”. Sekali lagi, dalam kondisi demikian, bertindak lebih dahulu tentu lebih baik daripada berpikir lebih dahulu. Bukankah lebih baik kita lompat ke belakang karena mengira benda tersebut adalah ular, ketimbang kita berpikir, dan bahkan merabanya lebih dahulu, untuk memastikan apakah benda tersebut benar-benar ular ataukah hanya seutas tali. Namun dalam kondisi lain, banyak contoh yang membuktikan bahwa lebih baik berpikir lebih dahulu sebelum bertindak. Ketika ada seseorang yang menyenggol bahu kita tanpa sengaja, tentu sangat tidak pantas kita meresponnya dengan emosi, naik pitam, langsung bertindak, membalas dan bahkan memukulnya.

Dalam tata kehidupan sosial, menjaga kemuliaan akhlak menjadi hal yang sangat utama, kemuliaan akhlak akan terpelihara jika aktivitas kita selalu berada dalam corridor yang benar dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Bagaimanakah caranya?, bukankah sudah digambarkan bahwa “pipa” saluran ke amygdala lebih besar ketimbang ke prefrontal cortex?, sehingga kita cenderung lebih dahulu bertindak sebelum berpikir. Terdapat “1001” jawaban terhadap pertanyaan di atas, 1 di antaranya yang paling penting (jawaban ini didasarkan pada uraian sebelumnya), yaitu: Memperbesar “pipa” saluran ke prefrontal cortex, sehingga informasi yang diberikan oleh indera akan lebih cepat sampai ke prefrontal cortex ke timbang ke amygdala. Pertanyaan susulan, bagaimana cara memperbesar “pipa” tersebut?. Caranya adalah dengan memperbanyak suplai darah dan oksigen masuk ke prefrontal cortex. Hal ini dapat terjadi dengan baik jika posisi kepala lebih rendah dari jantung, dalam ajaran Islam dapat dilakukan dengan sujud (ingat, prefrontal cortex terletak di bagian depan kepala/dahi) dalam shalat.

Dengan demikian, insya Allah, siapa yang rajin shalat maka segala tindak tanduknya selalu berada dalam kontrol otaknya yang “dingin”, mulutnya akan mengaga terlebih dahulu sebelum dia berucap. Insya Allah, pada diri mereka yang rajin shalat, akan terbentuk akhlak yang mulia, pada dirinya akan terhindar dari perbuatan yang tercela. Insya Allah dia akan terhindar dari apa yang diistilahkan oleh orang Banjar: “Tadahulu garobak daripada sapi, tadahulu batindak hanyar tapikiri”, jika hal ini yang terjadi maka akan datang penyesalan di kemudian hari.

Wallahu a’lam

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top