Powered by Translate
Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SPAN dan UM-PTKIN 2016
Hasil Ujian Tes CAT — 09/11/2016 pukul 12:00am
Kepegawaian — 08/11/2016 pukul 3:52pm
Register PNS IAIN Antasari 2015 — 10/09/2015 pukul 3:48am
Bimtek PAK Dosen 2015 — 27/05/2015 pukul 12:09am
DATA STATISTIK OKH — 11/05/2015 pukul 6:14am
PERATURAN DISIPLIN PNS — 14/04/2015 pukul 12:56am
UNDANGAN PENGARAHAN CPNS DOSEN 2014 — 27/03/2015 pukul 9:58am
Sungai Pengetahuan
Filed Under: Opini Antasari Senin, 5 Mei 2014 pukul 08:11 WITA — Dilihat 1,927 kali
Bagikan Tulisan Ini
DR-Sukarni

Sungai Pengetahuan sebagai filosofi integrasi keilmuan yang (rencana) dikembangkan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Pangeran Antasari Banjarmasin, memiliki pengertian integrasi empat pilar: keislaman, keindonesiaan, sainstek, dan kearifan lokal. Ilmu keislaman diberi simbol sebagai air hujan yang turun dari langit (wahyu). Paham keindonesiaan diberi simbol tanah ibu pertiwi yang menjadi tempat bertambatnya air hujan hingga menjadi sungai. Pengembangan sains dan teknologi diberi simbol aliran air sungai yang terus bergerak maju membangun peradaban. Kearifan lokal diberi simbol sebagai setiap air bersih yang memancar dari perut bumi untuk berkhidmat memberi kehidupan. Filosofi “sungai pengetahuan” meniscayakan sebagai ikhtiar untuk membangun peradaban manusia melalui pengembangam saintek berbasis keislaman, keindonesiaan, dan kearifan lokal.

Ada dua hal yang menjadi tuntutan dasar untuk pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia, bahkan pada tingkat lembaga pendidikan global, yaitu semangat integrasi ilmu dan agama (sains dan teologi) dan pendidikan karakter atau akhlakul karimah.

Tuntutan pertama didasari oleh pengalaman sejarah sains Islam dan pengalaman pahit pengembangan sains di dunia Barat yangktercerabut dari konteks teologis karena sekularisasi. Pengembangan sains di masa keemasan Islam diwarnai dengan integrasi pengetahuan antara ilmu dan wahyu, sedangkan di dunia Barat diwarnai dengan paham dikhotomis. Perkembangan sains di dunia Islam fase Muawiyah dan Abbasiyah telah memberi warna kecerahan bagi pengembangan ilmu pengetahuan hingga mencerahkan peradaban Barat.

Dikhotomi ilmu dan agama telah memberikan dampak yang luar biasa. Ilmu telah kehilangan basis spiritual dan kehilangan nilai aksiologinya, sehingga ilmu tidak menjadi hudan, namun ilmu nyaris menjadi alat untuk keserakahan dan kezaliman umat manusia. Pada Tahun 2000, para pakar pemerhati pendidikan tinggi Agama Islam nusantara telah berdiskusi hebat untuk mencari jalan keluar bagi bahaya  dikhotomi itu. Azyumardi Azra, misalnya menulis makalah panjang tentang IAIN di Tengah Paradigma Baru Perguruan Tinggi. Kala itu, dia mengusulkan revolusi kelembagaan IAIN menjadi “semacam” universitas dengan tiga model pilihan, Al-Azhar Cairo, Universitas Islam Swasta, atau Universitas Antar Bangsa Malaysia.

Keniscayaan integrasi ilmu dan agama dalam perspektif Islam dan pendidikan tinggi Islam di Indonesia, pada masa-masa kemudian (pasca tahun 2000) memunculkan banyak ragam paradigma, namun memiliki tujuan yang sama, integrasi ilmu dan agama dan pembinaan karakter. Jaring laba-laba UIN Suka, Pohon Ilmu UIN Maliki Malang dan seterusnya memiliki semangat yang sama, yaitu integrasi ilmu dan agama tadi.

Pembinaan karakter atau akhlakul karimah adalah ciri khas kedua dari pendidikan tinggi agama Islam. Dikembangkannya model ma’had al-jami’ah adalah untuk memberi sarana pendukung bagi terciptanya iklim spiritual. Fakta menunjukkan bahwa, banyak dari anak didik kita yang disorientasi hingga terjebak dalam tauran, narkoba, hingga seks bebas dan sikap hedonistik lainnya.  Akses negatif ini tentu tidak dialamatkan kepada lembaga pendidikan, tetapi kepada pola kehidupan global yang memiliki arus sangat deras menerjang  personaliti generasi anak didik kita.  Lembaga pendidikan seakan tak terlalu berdaya untuk  dapat membentengi peserta didiknya yang menyebabkan kerisauan orang tua. Kerisauan orang tua dan masyarakat tentu sangat beralasan, karena yang selama ini harapan mereka bertumpu pada lembaga pendidikan, namun ternyata tidak semuanya dapat memberi harapan.

Ma’had al-jami’ah bukanlah asrama atau pesantren. Asrama berkonotasi sebagai tempat kost, sedang pesantren sering dianggap sebagai tempat pendidikian yang terkesan kumuh dan main perintah yang tak bersahabat hingga sering menimbulkan trauma psikis yang berdampak mental pendendam. Ma’had al-jami’ah adalah sarana menanamkan spiritualitas atau kedekatan manusia kepada Tuhannya melalu penanaman isi Al-Quran dan orientasi mindset islami.

Dua pilar inilah, pengembangan ilmu keislaman interdisipliner (integrasi ilmu) dan pengembangan karakter melalui ma’had al-jami’ah, yang menjadi rukun dan fardu ‘ain bagi sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam, baik IAIN atau UIN. Simbol-simbol yang dipergunakan sebagai ikon dapat dipilih dari kearifan lokal masing-masing.

IAIN Antasari dengan usia setengah abad pada dies natalis 2014 tentu memiliki kekayaan falsafah yang bersumber dari kearifan lokal yang dapat dijadikan ikon dan simbol perjuangannya sebagai lembaga pendidikan Tinggi Islam tertua di Kalimantan. Nama Antasari sendiri menggambarkan sebuah perjuangan heruik dengan semboyan “waja sampai ka puting”. Di samping itu, IAIN Antasari juga dapat mengambil simbol sungai sebagai media yang dapat menampung berbagai sumber air hingga menjadi larutan berbagai pengetahuan yang menentukan gerak kehidupan. Dengan karakteristiknya yang khas, bumi Kalimantan dialiri ribuan sungai, dari yang besar, seperti Sungai Barito dan Mahakam, hingga sungai-sungai kecil.

Sungai, dengan airnya yang terus mengalir melambangkan dinamika gerakan perjuangan dan pengabdian yang tiada henti. Sungai dengan permukaan airnya yang tenang melambangkan keramahan dan penuh persahabatan. Sungai dengan potensinya untuk melarutkan melambangkan kesediaan dan kesetiaan dalam pengabdian. Sungai dengan airnya yang terbentuk dalam format  volume sesuai tempatnya melambangkan kemampuan untuk adaptasi menyesuaikan diri.  Dengan demikian sungai pengetahuan yang menjadi simbol bagi UIN Pangeran Antasari adalah lembaga pendidikan  yang terus bergerak dinamis, memiliki manajemen yang ramah dan penuh persahabatan, setia dalam pengabdian, dan adaptif dalam perkembangan. (skr)

  • KOMENTARI
  • DISKUSIKAN
  • TULISAN LAINNYA
  • TERPOPULER
  • BERITA LPM SUKMA
ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 4:26 am

:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatanBSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani …

BPI: Menyambung Pikiran, Menjawab Persoalan
Diposting pada lembaga pers tanggal 10 Desember 2016 pukul 3:31 am

Wartawan: Moh Mahfud (LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin)Pembukaan Sekolah Politik di Pendopo Desmond J. MahesaDitengah sentimen politik tanah air yang terus dikait-kaitkan dengan berbagai aspek, …

POLIKLINIK VAKUM, MAHASISWA IAIN HARUS SEHAT
Diposting pada lembaga pers tanggal 9 Desember 2016 pukul 10:06 am

Ilustration PictureBSukma- Poliklinik adalah badan atau balai pengobatan umum (tidak untuk merawat atau pasien menginap). Poliklinik yang ada di IAIN Antasari merupakan fasilitas yang disediakan oleh …

To Top